2. Serangan Balasan Strategis Sulit Dilaksanakan
Serangan balasan strategis hanya dapat efektif apabila negara yang diserang memiliki sistem komando yang stabil, jalur komunikasi militer yang utuh dan kemampuan koordinasi antar unit.
Apabila serangan udara lawan masih berlangsung dan dominasi udara telah tercapai oleh pihak lawan, maka kemampuan untuk melakukan serangan balasan strategis yang terkoordinasi menjadi sangat terbatas.
Serangan balasan yang terjadi dalam situasi tersebut sering kali merupakan pelaksanaan rencana operasi lama, yang telah disiapkan sebelum sistem komando mengalami gangguan.²
Dengan demikian, serangan balasan tersebut tidak selalu mencerminkan kemampuan strategis baru, melainkan inertia dari rencana operasi yang sudah ada sebelumnya.
3. Kesulitan Koordinasi Operasi Militer
Dalam doktrin perang modern, operasi militer yang efektif menuntut koordinasi simultan antara gerakan pasukan, dukungan tembakan, logistik dan komunikasi.
Apabila sistem komando terganggu, maka masing-masing unsur militer cenderung memprioritaskan keselamatan unitnya sendiri, mengambil keputusan taktis secara lokal sehingga mengurangi koordinasi dengan unsur lain.
Kondisi demikian menghasilkan fragmentasi operasi militer, yang pada akhirnya mengurangi efektivitas perang secara keseluruhan.³
4. Menurunnya Dukungan Rakyat
Setiap perang memiliki dimensi politik dan sosial, karenanya Carl von Clausewitz menyatakan bahwa perang merupakan kelanjutan politik dengan cara lain, sehingga legitimasi politik dan dukungan rakyat menjadi faktor penting dalam keberlanjutan perang.⁴
Apabila sebuah negara mengalami tekanan ekonomi berat, kepemimpinan yang terlalu lama dan kesulitan sosial yang berkepanjangan, maka dukungan rakyat terhadap perang biasanya akan menurun.