Mush'ab Muqoddas, Lc
Pimpinan Redaksi Senayan Post
Suasana kawasan makam Ki Wiryo Saroyo tampak selalu tenang di daerah Kembang Kuning di tengah kebisingan kota Surabaya ibukota provinsi Jawa Timur dan merupakan kota terbesar kedua di Indonesia.
Pada nisan makam Ki Wiryo Saroyo bertulis angka 1377 Tahun Saka atau tahun 1455 Masehi. Dapat dikatakan, Ki Wiryo Saroyo hidup pada saat akhir Kerajaan Majapahit. Terutamanya saat kemunduran akibat berkepanjangan dari Perang Paregreg di tahun 1377 Masehi.
Pada masa akhir hayat Ki Wiryo Saroyo, terjadi sengketa kekuasaan akibat pemberontakan Bhre Kertabhumi Penguasa Daha Kediri yang merebut kekuasaan sah Dyah Kertawijaya yang dikenal dengan Brawijaya V dan bergelar Sri Maharaja Wijayaparakramawardhana.
KH Agus Sunyoto dalam buku Atlas Wali Songo menyebutkan bahwa Ki Wiryo Saroyo dikenal sebagai Ki Bang Kuning, merupakan mertua Sunan Ampel yang nama aslinya adalah Ahmad Rahmatullah. Anaknya, Nyai Nimas Karimah merupakan istri kedua Sunan Ampel.
Melalui Nyai Nimas Karimah, Sunan Ampel memiliki sejumlah anak yaitu Raden Faqih kemudian bergelar Sunan Ampel II, Raden Husamuddin kemudian bergelar Sunan Lamongan, Raden Zainul Abidin kemudian bergelar Sunan Demak, Dewi Murtasiyah kemudian diperistri Sunan Giri dan Dewi Murtasimah kemudian diperistri Raden Fatah putra Raja Brawijaya V, penguasa terakhir Majapahit.
Berkat hubungan kekerabatan dengan Ki Wiryo Saroyo yang merupakan salah satu tumenggung atau pentinggi militer penting di Kerajaan Majapahit, Sunan Ampel mendapatkan dukungan yang kuat dalam dakwah dan menjaga stabilitas di kawasan Surabaya dan sekitarnya di tengah gejolak politik.
Raden Fatah yang merupakan salah satu anak Raja Brawijaya V kemudian melancarkan serangan atas Bhre Kertabhumi sebagai pembalasan atas kudeta terhadap ayahnya Raja Brawijaya V yang nama aslinya Dyah Kertawijaya.
Gejolak politik tersebut mengakibatkan gejolak sosial dan keamanan serta ftnah yang cukup keras di lingkungan masyarakat Majapahit. Khususnya kalangan buruh di kota Surabaya yang terdampak dengan merosotnya pengaruh dan aktifitas perdagangan di Majapahit dan kota-kota pesisir utara Pulau Jawa.
Ki Wiryo Saroyo dengan pengaruh militernya di masa akhir hayatnya berusaha menjaga stabilitas sosial keamanan tersebut, termasuk berusaha mengkonsolidasikan sisa-sisa prajuritnya akibat yang terpecah akibat konflik internal di Majapahit.
Dengan munculnya Penguasa Demak Raden Fatah sebagai pemenang, Ki Wiryo Saroyo bersama menantunya Sunan Ampel berusaha mengembalikan stabilitas Surabaya sebagai kota perdagangan di kawasan timur Pulau Jawa. Upaya menjaga stabilitas kota Surabaya diteruskan oleh keturunan Ki Wiryo Saroyo hingga kota Surabaya dikuasai oleh Mataram Islam.