Mush’ab Muqoddas, Lc
Pengamat Dinamika Timur Tengah
Pada akhir tahun 2012 sebagai penerjemah dari KBRI Cairo, penulis mendampingi delegasi Komisi I DPR RI yang dipimpin oleh Mahfud Shiddiq, saat ini merupakan sekjen Partai Gelora. Delegasi terdiri dari Mahfud Shiddiq (PKS), Mustafa Kamil (PKS), Muhammad Nadjib (PAN), Efendi Choiri (PKB), Yorris Raweyai (Golkar), Meutia Hafid (Golkar) dan Yahya Sarcawirya (Demokrat). Selain delegasi Komisi I DPR RI, juga masuk ke Jalur Gaza Palestina, rombongan LSM yang dipimpin oleh Anggota Majelis Syuro PKS Suripto dari Komite Nasional untuk Rakyat Palestina.
Semua delegasi masuk melalui border Rafah Mesir. Rafah adalah kota paling timur di Mesir. Rafah juga kota paling barat Palestina, dan paling selatan di Jalur Gaza. Rafah dulu adalah satu kota, Mesir dan Bangsa Palestina saling mengklaim. Keduanya sepakat dibagi dua. Rafah Mesir dan Rafah Palestina.
Sore hari delegasi Komisi I DPR RI diterima oleh Pemimpin Hamas Ismail Haniye yang gugur saat berkunjung ke Iran. Paginya delegasi didampingi Jubir Hamas Omar Al Musyir delegasi Komisi I DPR RI berkunjung ke bangunan Rumah Sakit Indonesia yang terletak di kota Bait Lahiya, bagian utara Jalur Gaza Palestina yang berbatasan dengan Pelabuhan Asdod Israel.
Kota Bait Lahiya merupakan basis Jihad Al Islami. Awalnya merupakan sayap Al Qaeda dengan ideologi harokah yaitu Jamaah Islamiyah. Bekalangan ini, bersama Hamas, Jihad Islami dekat dengan Iran. Hal ini memperkuat pandangan sejumlah pengamat tentang aliansi Iran dengan Al Qaeda yang beraliran salafisme garis keras.
Tengah malam penulis tidak bisa tidur. Dengan bersarung dan berjas karena musim dingin, penulis turun ke lobby hotel yang berada di tepi pantai. Malam itu ternyata, seorang perwira polisi yang mendampingi delegasi Komisi I DPR RI tidak tidur. Rekannya yang harus menggantikannya balum datang. Namanya Khalid Kiddih.
Selama mendampingi delegasi Komisi I DPR RI, Khalid Kiddih sangat ramah. Baik di kediaman Ismail Haniye atau di kediaman Wakil Komandan Brigade Al Qassam Hamas Saad Al Jaabari, Khaldi Kiddih selalu mendampingi.
Malam itu kami minum kopi dan berbincang santai di lobby hotel. Khalid Kiddih berkisah tentang keluarganya. Dia berasal dari keluarga petani di kota Dier Balah. Kota yang subur dengan perkebunan kurma, stawberi, zaitun serta buah dan sayuran lainnya. Gaza subur karena darah para Syuhada. Kata Khalid Kiddih yang penulis ingat sampai saat ini.
Khalid Kiddih cerita bahwa keluarganya memiliki perkebunan strawberi di Dier Balah. Pasarnya adalah Jalur Gaza Palestina dan juga Israel. Produksi panennya melebihi kebutuhan pasar. Khalid Kiddih ingin di kemudian hari memiliki modal yang cukup untuk mendirikan pabrik selai strawberi sehingga memiliki pendapatan yang lebih untuk kesejahteraan keluarga besarnya dan juga warga Dier Balah secara umum.
Perdagangan antara Gaza Palestina dengan Israel, merupakan suatu yang lumrah. Mengingat mata uang yang berlaku di Gaza Palestina adalah Israeli Shekel yang disingkat ILS. Salah satu pekerja di Rumah Sakit Indonesia bernama Muhammad Husain menceritakan harga bensin dari Mesir seharga ILS 1,- perliter di Jalur Gaza. Sedangkan bensin dari Israel seharga ILS 3,- perliter. Sejumlah produk Israel juga dapat ditemui di Jalur Gaza, salah satunya adalah Persil, sabun cuci piring dan pakaian.
Muhammad Husain selain bekerja membangun Rumah Sakit Indonesia juga mengenyam bangku kuliah di Universitas Islam Gaza dan menikah dengan gadis setempat yang dicintainya. Saat ini lebih dikenal dengan Husain Gaza dan bersama Abdullah Onim berjuang menyalurkan bantuan dari Indonesia untuk Rakyat Palestina di Jalur Gaza.
Dari Khalid Kiddih, penulis dapat memahami bahwa Rakyat Palestina baik di Jalur Gaza ataupun Tepi Barat sangat mendambakan kehidupan yang damai dan tentram tanpa perang. Mereka ingin sejahtera, bahkan upgrade dari hanya berproduksi strawberi menjadi selai strawberi yang bernilai lebih tinggi.