Jurnalis Israel Rogel Alpher
Beberapa hal dapat diasumsikan dengan tingkat kepastian yang tinggi. Mari kita mulai dengan apa yang hampir pasti terjadi :
Pertama, Benjamin Netanyahu akan menolak untuk menghormati kekalahannya dalam pemilihan umum.
Kedua, Netanyahu akan menolak untuk mematuhi putusan Mahkamah Agung yang memerintahkannya untuk mengakui kekalahannya. Menurut Yossi Verter (dimuat oleh Media Haaretz, pada 16 Januari 2026), skenario ini sedang dibahas akhir-akhir ini dalam pertemuan tertutup di antara apa yang dapat disebut sebagai pejabat penegak hukum senior. Para pejabat ini khawatir. Mereka tidak memiliki solusi untuk dilema ini. Yang jelas bagi mereka adalah, Netanyahu tidak akan melepaskan kekuasaan selama persidangannya tidak dibatalkan.
Ketiga, dari sini, dapat juga diasumsikan dengan tingkat kepastian yang tinggi bahwa lembaga penegak hukum tidak memiliki kekuatan untuk memaksa Netanyahu menyerahkan kekuasaan.
Keempat, persidangan atas Netanyahu akan dibatalkan melalui undang-undang yang dipercepat yang akan membatalkan dakwaan utama dalam seribu kasus baik korupsi, penipuan dan pelanggaran keagamaan. Jika Mahkamah Agung turun tangan, pemerintah akan menolak untuk mematuhi keputusannya. Oleh karena itu, Netanyahu akan tetap berkuasa.
Ini hampir pasti. Ironisnya, wacana di kubu liberal, dan di media yang masih independen, seolah-olah kita menghadapi pemilihan seperti pada tahun 2021, ketika Netanyahu mengizinkan pemerintahan reformasi yang dipimpin oleh Naftali Bennett terbentuk.
Aturan main telah berubah sejak lama, dan kemungkinan akan terus berubah. Aturan yang dimainkan Netanyahu bersifat diktator dan fasis.
Kenaifan kubu liberal, termasuk kepemimpinan politiknya yang tidak kompeten, berarti mereka tidak siap untuk pertempuran menegakkan kemenangan elektoral yang diprediksi oleh survey yang bereputasi, bukan survey yang digelar Channel TV 14 Israel.
Aksi protes jalanan mulai mereda dan tampak tidak efektif, seolah-olah kubu protes lebih memilih untuk dengan sabar menunggu transisi kekuasaan secara demokratis, setelah itu mereka akan membentuk komisi penyelidikan resmi dan secara umum memperbaiki kerusakan yang ditimbulkan oleh Kahanisme (kaum agamawan ultra orthodox) dan Netanyahu (koruptor yang sekuler).