Dr KH Mukhlish Hanafi
Sekjen Organisasi Internasional Alumni Al Azhar Cabang Indonesia
Saya ini generasi X. Lahir tahun 70-an. Terjepit di antara baby boomers dan milenial. Generasi transisi. Generasi yang pernah hidup tanpa internet, tapi sekarang dipaksa hidup bersama AI. Lengkap dengan segala kejutannya.
Saya kuliah di Mesir tahun 90-an. Internet? Jangan dibayangkan seperti sekarang. Aksesnya amat sangat terbatas. Dulu, untuk dapat berita dari Indonesia, kami menunggu fotokopian berita daring dari aktivis KMNU saat itu, Mas Arif dan Pak Zainal. Yang tinggal di Masakin Usman, Nasr City.
Komputer saat itu barang mewah. Apalagi bagi mahasiswa di masa krismon. Nilai dolar yang biasanya Rp2.500 pernah melonjak sampai mendekati Rp17.000. Kiriman uang seret. Kami pun ikut seret. Saat menulis tesis 1998–2000, saya belum punya komputer. Belum punya komputer!
Maktabah Syamilah belum populer. Copy–paste belum jadi budaya. Semua bahan saya kumpulkan dari perpustakaan. Kutipan dicatat pada potongan kertas kecil berukuran saku, disebut “Kuruut al-baḥts”. Mahasiswa Mesir tempo dulu pasti tahu benda itu—dijual resmi di toko buku.
Perpustakaan menjadi rumah kedua. Selain perpustakaan kampus, favorit saya adalah Maktabat al-Muṣṭafā di Damardash. Saya bisa seharian di sana: menyalin kutipan dari kitab-kitab tebal, memindahkannya ke kertas kecil. Kutipan setiap fasal disteples. Malamnya dirangkai ulang menjadi tulisan. Manual. Dengan tangan. Dengan tinta. Tanpa copy–paste. Tanpa shortcut. Tanpa “Ctrl + C”.
Ada satu ritual kecil yang selalu saya ingat. Setiap kali menulis nama Nabi Muhammad, saya tulis lengkap: ṣallallāhu ʿalaihi wa sallam. Padahal berulang-ulang. Tidak disingkat ṣād-mīm (ص م), ṣal‘am (صلعم), atau SAW. Guru-guru saya di Al-Azhar mengajarkan begitu. Untuk menghadirkan berkah.
Mencari satu hadis bisa berhari-hari. Kadang buka 20 kitab, tak ketemu. Ketemu yang tidak dicari. Yang dicari malah bersembunyi. Tapi di situlah prosesnya. Proses yang membentuk karakter: sabar, tekun, dan tidak cepat menyerah.
Zaman berubah. Sekarang? Tinggal ketik. Muncul. Kalau malas mengetik, tinggal bicara. AI menjawab. Lengkap. Cepat. Kadang terlalu cepat. Semua serba instan. Dulu, ilmu itu seperti mendaki bukit. Sekarang seperti naik lift. Dulu kami miskin informasi. Sekarang kita kaya informasi. Tapi miskin konsentrasi. Dulu kami tersesat karena tak tahu jalan. Sekarang kita tersesat karena terlalu banyak aplikasi. Dulu kami berhari-hari mencari dalil. Sekarang orang berdebat lima menit sudah mencari “dalil pembenaran.” Sekarang kita bisa mendapatkan satu buku dalam tiga detik. Masalahnya, kita juga bisa lupa dalam tiga menit.
Saya sering merasa, di era ini, tantangannya bukan lagi tidak punya akses. Tantangannya justru terlalu banyak akses. Dulu kita kekurangan pintu. Sekarang kita kebanyakan jendela. Dan terlalu banyak pilihan kadang bikin bingung. Persis seperti milih jodoh.
Tapi satu hal tidak berubah. Apa yang dicari dengan susah payah, melekat lebih lama.
Apa yang datang terlalu cepat, hilang juga dengan cepat. Bukan salah teknologinya. Salah kita yang terlalu memanjakan diri.
Zaman berubah. Alat berubah. Tapi hakikatnya tetap sama. Ilmu tidak akan betah di hati orang yang ingin semuanya instan. Ia senang singgah pada mereka yang mau duduk lama, membuka lembar demi lembar, dan rela tersesat sebelum menemukan yang dicari.