khazanah

Resolusi Jihad dalam Catatan Sejarah

Sabtu, 25 Oktober 2025 | 10:29 WIB
KH Mukti Ali Qusyairi (Dok Pribadi)

Mukti Ali Qusyairi

Alumni Pesantren Lirboyo, Universitas Al-Azhar Mesir dan Sekolah Pasca Sarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

 

Apakah resolusi jihad melawan penjajah sekutu di Surabaya tercatat dalam sejarah resmi Indonesia? Setidaknya ini pertanyaan tajam dari KH. Aguk Irawan Mn pengasuh pesantren Bantul Kilmah Yogyakarta dalam tulisannya. Kiyai Aguk lalu menjawab tidak tertulis dalam sejarah resmi baik zaman Orla maupun Orba.

Persoalan ini relevan untuk kembali diteliti secara seksama pada naskah-naskah klasik sejarah bangsa Indonesia lebih lanjut.

Sebelum menelisik pada naskah-naskah sejarah bangsa. Saya menemukan resolusi jihad ditulis sebagai informasi dunia pesantren oleh KH. Saifuddin Zuhri mantan menteri agama RI dan Dr. Nurcholish Madjid yang akrab disapa Cak Nur pendiri Universitas Paramadina dan mantan ketua HMI.

Cak Nur yang seorang santri alumni pesantren Jombang dan Gontor dalam bukunya "Bilik-Bilik Pesantren: Sebuah Potret Perjalanan" menulis:

"..pada masa revolusi melawan Belanda dulu, semua hubungan, termasuk notulen rapat-rapat banyak menggunakan huruf Pego. Contohnya, ketika NU mengadakan rapat di Madiun dengan TNI--pada waktu itu diwakili oleh Jenderal Sudirman--hasil rapat yang berupa fatwa wajibnya jihad melawan Belanda ditulis dengan huruf Pego."

Dalam tulisan Cak Nur itu, fatwa wajib jihad melawan penjajah Belanda dan sekutu--yang kemudian ditindaklanjuti dengan menyusun Resolusi Jihad bersama para kiyai lain--adalah fakta sejarah. Di mana fatwa itu hasil dari rapat koordinasi dengan Jenderal Sudirman, yang berlatarbelakang Muhammadiyah dan pernah menjadi guru Kepanduan Hizbul Wathan Muhammadiyah di Karesidenan Banyumasan.

Buku Bilik-Bilik Pesantren: Sebuah Potret Perjalanan Cak Nur itu saya beli pada 1997 di Toko Buku Oscar Kota Kediri ketika saya berada di kelas 3 tsanawiyah Pesantren Lirboyo. Masih ada harganya Rp 15.600. Kebetulan waktu itu buku tersebut masih angetan, terbit 1997.

Jauh sebelum Cak Nur menuliskan tentang resolusi jihad. 10 tahun sebelumnya, KH. Saifuddin Zuhri dalam bukunya "Berangkat dari Pesantren" yang terbit pada 1987 menjelaskan lebih detail lagi tentang resolusi jihad. Sebagai berikut:

"Malam itu, 22 Oktober 1945, rapat PBNU yang diperlengkapi dengan para konsul NU seluruh Jawa dan Madura dihadiri oleh seluruh ulama anggota Suriyah-Tanfidziyah. Pimpinan rapat di tangan Ketua Besar KH. Abdulwahab Hasbullah.

Setelah Hadratusy Syekh KH. Hasyim Asy'ari memberi amanatnya pokok-pokok kaidah tentang kewajiban umat Islam pria maupun wanita dalam jihad mempertahankan kemerdekaan tanah air dan bangsanya, rapat menyimpulkan keputusan dalam bentuk resolusi, setelah dilangsungkan tukar pendapat dalam musyawarah yang amat mendasar. Resolusi tersebut diberi nama "Resolusi Jihad" yang perinciannya sebagai di bawah ini:

1. Kemerdekaan Indonesia yang diproklamasikan pada tanggal 17 Agustus 1945 wajib dipertahankan.

Halaman:

Tags

Terkini

KH. Imam Jazuli di Antara Kenyataan dan Kritikan

Jumat, 17 Juli 2026 | 18:28 WIB

Gara-Gara Huruf "P"

Jumat, 12 Juni 2026 | 08:15 WIB

Brutu

Senin, 8 Juni 2026 | 13:21 WIB

FA AINA TADZHABUN?

Rabu, 3 Juni 2026 | 07:58 WIB

Niat Puasa Arafah, Latin dan Artinya

Senin, 25 Mei 2026 | 21:10 WIB

Gema Lonceng Vatikan: Ditubir Perang Dunia

Jumat, 24 April 2026 | 17:19 WIB