Oleh karena itu, kemauan politik ekonomi berdaulat harus dijaga dengan kesadaran intelijen nasional — kecerdasan untuk membedakan patriot sejati dari aktor kamuflase. Hanya dengan moral Pancasila dan disiplin kebangsaan yang teguh, Indonesia dapat memastikan bahwa ekonomi bukan menjadi alat segelintir orang, melainkan perisai dan pelita bagi seluruh rakyat Indonesia.
Daftar Referensi
1. Djojohadikusumo, Sumitro. Pembangunan Ekonomi Indonesia. Jakarta: Pustaka Sinar Harapan, 1959.
2. Djojohadikusumo, Sumitro. Ekonomi Pembangunan. LP3ES, 1982.
3. Mubyarto. Ekonomi Pancasila: Gagasan dan Kemungkinan. BPFE, Yogyakarta, 1987.
4. Soekarno, Ir. Dibawah Bendera Revolusi, Jilid II. Panitia Penerbit, 1964.
5. Hatta, Mohammad. Ekonomi Rakyat dalam Negara Indonesia Merdeka. Bulan Bintang, 1953.
6. Ha-Joon Chang. Kicking Away the Ladder: Development Strategy in Historical Perspective. Anthem Press, 2002.
7. Dani Rodrik. The Globalization Paradox: Democracy and the Future of the World Economy. W.W. Norton, 2011.
8. Xi Jinping. The Governance of China. Beijing: Foreign Languages Press, 2018.
9. A.M. Hendropriyono. Filsafat Intelijen Negara. Jakarta: Gramedia, 2022.
10. Lee Kuan Yew. From Third World to First: The Singapore Story. HarperCollins, 2000.
11. Purbaya Yudhi Sadewa. Fiscal and Exchange Rate Policy in Small Open Economies: Evidence from Indonesia. LPEM UI Working Paper, 2003.
12. Purbaya Yudhi Sadewa. Dinamika Fiskal dan Nilai Tukar dalam Perekonomian Indonesia. BI Working Paper Series, 2016.