khazanah

Operasi “Bendera Proletar Palsu”: Strategi Kapitalisme Barat

Jumat, 19 September 2025 | 18:24 WIB
AM Hendropriyono

 

Oleh: AM Hendropriyono

Guru Besar Filsafat Intelijen 

 

Revolusi sosial selalu menjadi instrumen perubahan radikal dalam sejarah peradaban. Sejak Revolusi Bolshevik di Rusia pada 1917, dunia menyaksikan bagaimana kekuatan ideologi, partai pelopor, dan penderitaan rakyat marjinal dapat digerakkan menjadi kekuatan politik yang mengguncang tatanan lama.

 

Lenin dengan Marxisme-Leninismenya berhasil membalikkan kekuasaan Tsar dan mendirikan negara proletar. Namun, di abad ke-21, pola serupa tampak kembali dengan wujud yang berbeda: kapitalisme Barat menggunakan strategi yang dalam dunia intelijen disebut false-flag operation.

 

False-flag operation adalah taktik intelijen di mana aktor utama menyembunyikan dirinya di balik simbol lawan, sehingga publik salah mengira siapa penggerak sesungguhnya. (1) Lenin memanfaatkan penderitaan buruh, petani, dan tentara dengan slogan populis “Tanah, Roti, Perdamaian.”(2) Sebaliknya, kapitalisme Barat di era kontemporer menggunakan narasi demokrasi, hak asasi manusia, perubahan iklim, dan rules-based order untuk memobilisasi kelas menengah global. Jika Lenin ingin menghancurkan kapitalisme, Amerika Serikat justru melakukan revolusi untuk mempertahankannya.(3)

 

Kapitalisme Barat tidak lagi mengandalkan senjata api, melainkan kekuatan finansial, teknologi, media, dan NGO.(4) Melalui jejaring Wall Street, Silicon Valley, IMF, Bank Dunia, serta lembaga-lembaga multilateral, mereka menggerakkan soft revolution yang efektif mengguncang stabilitas negara-negara berkembang.(5) Dalam filsafat intelijen, hal ini adalah bentuk transformasi strategi: revolusi keras ala Bolshevik digantikan revolusi lunak yang berwajah idealis namun berwatak hegemonik.

 

Indonesia pada “Demo Agustus Kelabu 2025” menjadi salah satu laboratorium terbaru dari operasi ini. Aksi massa yang digambarkan sebagai protes rakyat, ternyata memperlihatkan pola pendanaan eksternal, orkestrasi digital, dan framing media internasional.(6) Pola ini menunjukkan keterlibatan kapital transnasional yang berusaha menggoyahkan legitimasi nasionalisme dan membuka jalan bagi penetrasi ekonomi global. Menurut laporan investigasi International Crisis Group (2025), terdapat pola orkestrasi digital melalui penggunaan bot, micro-influencer, dan kampanye media sosial lintas negara.(18) Laporan intelijen terbatas juga mengindikasikan adanya peran lembaga think tank global yang memberikan pelatihan non-violent resistance kepada aktivis muda di Asia Tenggara, termasuk Indonesia, mengikuti pola “Arab Spring 2.0.”(19)

 

Halaman:

Tags

Terkini

FA AINA TADZHABUN?

Rabu, 3 Juni 2026 | 07:58 WIB

Niat Puasa Arafah, Latin dan Artinya

Senin, 25 Mei 2026 | 21:10 WIB

Gema Lonceng Vatikan: Ditubir Perang Dunia

Jumat, 24 April 2026 | 17:19 WIB

Krapyak

Selasa, 21 April 2026 | 22:32 WIB

Muslihat AS Menyerang Iran

Selasa, 14 April 2026 | 17:11 WIB