Para tokoh salafi ini berpandangan bahwa aliran salafisme di Ikhwanul Muslimin adalah salafi-haroki atau salafi-siyasi yang hanya menggunakan akidah salafi-wahabi untuk kepentingan politik partisan Ikhwanul Muslimin sendiri, bukan untuk Umat Islam secara umum.
Bagi kaum salafi, membuat kelompok ideologis seperti Ikhwanul Muslimin adalah bid’ah karena mereka memahami secara tekstual hadits terkait perpecahan Umat Islam hingga lebih dari 70 kelompok. Adapun Partai An-Nur bagi kaum salafi hanya sebagai wahana aspirasi dan bukan partai politik ideologis seperti Ikhwanul Muslimin.
Membahas salafisme akan kesulitan jika hanya dilihat dari sudut pandang akidah atau idelogi, karena salafisme telah menjadi trend life style atau gaya hidup. Bagi kaum salafi, pemahaman akan sunnah dalam berpenampilan harus diwujudkan secara fisik seperti jenggot panjang dan celana cingkrang.
Adapun nalar politik, kaum salafi tidak akan membentuk kelompok ideologis atau partai ideologis apalagi bergabung dengan organisasi yang memiliki ideologi keagamaan.
Maka dari itu, sebenarnya organisasi keislaman di Indonesia seperti Muhammadiyah tidak perlu khawatir dengan kaum salafi, karena nalar berfikir mereka tidak menginginkan berorganisasi. Mereka lebih suka bergerak sendiri-sendiri dan jika awalnya mereka berorganisasi, mereka akan memisahkan diri dengan sendirinya.
Salafisme sebagai life style muncul di kawasan Great Cairo dari mereka yang merupakan anak-anak orang kaya baik pejabat pemerintah, perwira tinggi militer atau pengusaha, yang kemudian membentuk komunitas bernama Salafiyo Costa. Penamaan ini hanya karena mereka sering ngopi di Costa Coffee yang berada di Mosadak Street distrik Dokki provinsi Giza.
Walaupun berakidah salafi-wahabi, bercelana cingkrang dan jenggot panjang, mereka lebih suka ngopi, nonton bola, bahkan merokok atau menghirup shisha. Pastinya, gejala Salafiyo Costa ini sudah muncul di Indonesia.
Komunitas Salafiyo Costa ini dikoordinatori oleh Muhammad Thalabah, salah satu pelanggan Costa Coffee. Pasca tumbangnya rezim Ikhwanul Muslimin, Muhammad Thalabah akan mendirikan partai politik akan tetapi berorientasi lingkungan atau yang di Benua Eropa dinamakan green party.
Dari sini, dapat dilihat bahwa salafi-wahabi bukan ideologi politik akan tetapi telah berkembang menjadi gaya hidup. Berbeda tentunya dengan Ikhwanul Muslimin, Jamaah Islamiyah, Al Qaeda, ISIS dan Hizbut Tahrir yang pembentukannya akibat kondisi sosial-politik seperti halnya Darul Islam atau Negara Islam Indonesia.
Menurut penulis, menu paling enak di Costa Coffee yang beralamat Mosadak Street Dokki Giza Mesir adalah chess cake blueberry dan muffin cake chocolate dengan hot cappuccino atau ice chocolate.