Strategi Amerika Serikat itulah yang kemudian menimbulkan krisis moneter di Asia termasuk Indonesia, yang berdampak jatuhnya Orde Baru.
Elemen utama dari strategi perang Ekonomi AS itu adalah dengan cara melemahkan mata uang negara-negara sekitar (pheriphery) Jepang, yang merupakan patner dagang utama Jepang.
Para Milyarder Amerika Serikat terkenal, misalnya George Soros mempunyai peranan penting, sebab merekalah yang mengendalikan nilai US $ terhadap mata uang negara lain. Para milyarder itulah, yang mengendalikan bank-bank besar diseluruh Asia pasifik.
Penilaian dan perkiraan Intelijen Jepang tersebut sangat akurat, sebulan kemudian nilai rupiah mulai menurun dan semakin turun tajam pada triwulan pertama tahun 1998.
Puncaknya pada awal Mei 1998, yang menimbulkan aksi unjuk rasa besar yang disusul terjadinya tindak kekerasan.
Strategi Amerika Serikat yang didukung oleh konglomerat AS atau Barat tsb tidak bisa dibendung, mata uang seluruh negara ASEAN, Korea Selatan, Taiwan, Hongkong, India dan lainnya hancur berantakan .
Dengan hancurnya mata uang regional, maka perdagangan Jepang dengan patner dagang utama menurun drastis, dan akibat dari perang dagang tersebut terjadi kemelut politik secara regional.
Hal itu merupakan pelajaran perlunya terpeliharanya hubungan ekonomi antar negara yang adil, dan menghindari persaingan ekonomi tidak sehat khususnya perang dagang misalnya perang dagang AS dg RRC sekarang ini.
Bagi dunia 'telik sandi', betapa pentingnya arti hubungan intelijen dengan negara negara sahabat. Kemelut atau kekisruhan politik dan keamanan suatu negara bukan hanya berpangkal pada perkembangan dalam negeri saja.
Baca Juga: Jangan Kesal Ketika Tahu Alasan Mario Dandy Menggunakan Pelat Nomor Palsu di Mobil Jeep Rubicon
Tetapi juga dipengaruhi oleh perkembangan atau kemelut diluar negeri misalnya perang Rusia-Ukraina dan perang dagang AS-RRC.***