internasional

Perang Rusia Ukraina: Pasukan Zelenskiy Terus Maju ke Bakhmut, Tentara Bayaran Wagner Makin Terpojok

Jumat, 19 Mei 2023 | 18:15 WIB
Ilustrasi, pasukan Ukraina di Bakhmut terus melancarkan serangan kepada tentara Rusia setelah sebelumnya daerah tersebut sempat direbut. (Pixabay.com/Luaks Johnns)

Prigozhin dalam kesempatan itu menyampaikan pesan kepada Menteri Pertahanan Rusia Sergei Shoigu dan Kepala Staf Umum Valery Gerasimov.

Baca Juga: Sempat Tersendat di Senayan, Arak-arakan Timnas Indonesia U22 Sepulang SEA Games 2023 Disambut Meriah Warga

Ia meminta agar Rusia tidak menyerah di bagian sayap untuk merebut Bakhmut.

"Tolong jangan menyerah di sayap," tambahnya.

Sementara itu, Wakil Menteri Pertahanan Ukraina Hanna Maliar, yang melaporkan kemajuan di Bakhmut, mengatakan pasukan Ukraina memenuhi 'tujuan militer' mereka.

Baca Juga: Komentar Jokowi soal Penahanan dan Status Tersangka Johnny G Plate, Tunjuk Menko Polhukam jadi Plt Menkominfo

"Sampai sekarang, kami menguasai bagian barat daya Bakhmut," kata Hanna Maliar.

Hanna menjelaskan bahwa Rusia menyerang Bakhmut sepanjang hari pada hari Kamis setelah 'secara signifikan memperkuat' pasukannya di kota itu dengan memasukkan sebagian besar cadangannya, tetapi semua 'serangan berhasil digagalkan'.

Kementerian Pertahanan Rusia telah mengakui beberapa penarikan dari posisi dekat Bakhmut selama seminggu terakhir tetapi menyangkal pernyataan Prigozhin bahwa sayap-sayap runtuh atau telah menahan amunisi dari Wagner.

Baca Juga: Janji Kemal Kilicdaroglu di Putaran Kedua Pemilu Turki untuk Kalahkan Erdogan hingga Picu Perdebatan di Medsos

Di sisi lain, Institut Studi Perang memberikan pernyataan baru soal pertempuran berdarah di Bakhmut.

Menurutnya, pasukan Ukraina telah mengambil 'inisiatif taktis dan membuat keuntungan taktis yang signifikan di sekitar Bakhmut dalam operasi serangan balik'.

"Sifat operasi ofensif Wagner yang terbatas di Bakhmut dibandingkan dengan serangan balik lokal Ukraina menggarisbawahi hilangnya inisiatif Rusia di daerah tersebut," kata lembaga think tank yang berbasis di Washington DC itu.***

Halaman:

Tags

Terkini