internasional

Dokumen Perang Rusia - Ukraina Bocor di Media Sosial, AS 'Kalang Kabut' Cari Sumbernya

Senin, 10 April 2023 | 18:17 WIB
Ilustrasi, Amerika Serikat (AS) saat ini tengah menginvestigasi kebocoran dokumen rahasia mengenai perang Rusia dan Ukraina. (Pexels.com/Caleb Oquendo)

SENAYAN POST - Perang Rusia dan Ukraina belum berakhir, masyarakat internasional dihebohkan dengan kebocoran dokumen rahasia perang.

Kabarnya, dokumen rahasia perang itu berisi rencana Amerika Serikat (AS) dan NATO yang akan membantu Ukraina melawan Rusia.

Saat ini, AS tengah menginvestigasi sumber kebocoran dokumen rahasia perang tersebut.

 Baca Juga: Begini Nasib Tiga Anak Muda yang Melakukan Klitih terhadap Anggota Kopassus

Tidak hanya itu, ditemukan kebocoran dokumen rahasia lainnya yang menyangkut Timur Tengah.

Amerika Serikat berusaha keras untuk mengidentifikasi sumber kemungkinan kebocoran dokumen yang sangat rahasia yang tampaknya mengungkap detail sensitif tentang sekutu AS, termasuk kerentanan Ukraina dalam perangnya dengan Rusia.

Pentagon mengatakan pada hari Minggu bahwa pihaknya telah membuat rujukan resmi ke Departemen Kehakiman.

 Baca Juga: Ketika Teknologi Semakin Canggih, Maling Kotak Amal Masjid Pun Bisa Pakai Barcode QRIS

Mereka memintanya untuk menyelidiki kebocoran dokumen tersebut, yang telah diedarkan di situs media sosial, termasuk Twitter.

Dokumen-dokumen tersebut, yang mirip dengan pembaruan harian non-publik yang dibuat oleh Staf Gabungan militer AS, tampaknya berisi informasi intelijen yang berkaitan dengan Ukraina, China, Timur Tengah, dan Afrika.

Kebocoran tersebut tampaknya menunjukkan Washington memata-matai sekutu dekat AS, termasuk Ukraina, Korea Selatan, dan Israel, pengungkapan yang berpotensi memalukan bagi pemerintahan Presiden AS, Joe Biden.

 Baca Juga: Jokowi Wanti-wanti para Gubernur Soal Mudik Lebaran 2023: Ini 123 Juta Orang, Hati-hati

Namun, dokumen tersebut tampaknya mengandung setidaknya beberapa kesalahan, termasuk perkiraan korban di medan perang yang meminimalkan kerugian Rusia.

Para pejabat AS mengatakan kepada kantor berita Reuters bahwa mereka tidak mengesampingkan kemungkinan bahwa dokumen-dokumen itu telah direkayasa untuk menyembunyikan asal-usulnya atau menyebarkan informasi palsu yang dapat merusak kepentingan keamanan AS.

Halaman:

Tags

Terkini