Salah satu contoh mengenai hal tersebut di atas adalah Bung Karno tetap bersahabat, dengan seorang pelukis keturunan Yahudi Ernest Dezentje dan tetap mempekerjakan warga Belanda berdarah Yahudi sebagai Kepala Rumah Tangga Istana Merdeka dan Istana Negara yang bernama Van der Bell.
Baca Juga: AM Hendropriyono soal Politikus yang Tolak Timnas Israel: Jangan Main Makan Saja, Nanti Perut Sakit
Dalam operasinya di Indonesia agen-agen Mossad selalu bekerja sama dengan agen-agen CIA dalam melaksanakan operasi spionasenya.
Nama lain yang diketahui adalah agen ganda CIA/Mossad bernama Doeve, yang berkedok sebagai pesulap bahkan pernah mengadakan pertunjukan di Istana Negara dihadapan Presiden dan petinggi-petinggi pemerintah yang lain.
Di era tahun 1950 sampai dengan 1960-an berdasarkan pemantauan BPI (Badan Pusat Intelijen), diketahui ada berbagai agen-agen intelijen yang beroperasi di Indonesia.
Penulis mengetahui hal tersebut dari penuturan Kepala Badan Pusat Intelijen merangkap Menteri Luar Negeri dr. Subandrio, yang bertutur ketika santap siang bersama Bung Karno di Istana Merdeka.
Mereka-mereka terdiri dari agen-agen KGB Uni Soviet yang berpusat di Gedung Pusat Kebudayaan Uni Soviet di Jalan Imam Bonjol Jakarta. CIA berpusat di perumahan diplomat-diplomat Amerika Serikat di jalan depan Patung Tani.
Baca Juga: Menteri Israel Serukan untuk Binasakan Kota Palestina di Tepi Barat
MI-6 Inggris melakukan kegiatan dari Kedubes mereka di Jakarta. Sedangkan Mossad kerap kali mengadakan pertemuan-pertemuan klandestin (rapat gelap) di Jalan Garut Menteng Jakarta Pusat.
Di Bandung contact person CIA adalah Oeyeng Suwargana yang sekaligus membina para petinggi-petinggi TNI AD di divisi Siliwangi dari pangkat perwira menengah sampai dengan perwira tinggi (musim menjagal; Geoffrey Robinson).
Kegiatan-kegiatan agen intelijen luar negeri sangat aktif dilakukan di era Orde Dasar dalam rangka mendongkel Bung Karno dari kekuasaannya dengan jalan melakukan kudeta merangkak (creeping coup d’etat) yaitu pendongkelan kekuasaan secara bertahap (ahli sejarah; Asvi Marwan Adam) yang ternyata berhasil sukses dengan terbitnya Ketetapan MPRS Nomor 33 tahun 1967.
Di era kepemimpinan Bung Karno ada tiga kasus penyusupan agen CIA yang berhasil digagalkan yaitu kasus Bill Palmer yang memberikan dukungan senjata dan keuangan pada DI/TII Kartosuwiryo, masuknya secara lihai seorang agen wanita Pat Price ke dalam lingkungan keluarga Bung Karno, kemudian tertangkapnya Allen Lawrence Pope pilot sewaan CIA yang pesawatnya ditembak jatuh oleh pilot andalan AURI Ignatius Dewanto menggunakan pesawat buru sergap P-51 Mustang di Ambon.
Pada era tersebut di atas Duta Besar-Duta Besar yang dicurigai sebagai agen-agen dari Badan Intelijen negaranya adalah Dubes Amerika Serikat, untuk Indonesia Marshal Green kemudian Dubes Inggris untuk Indonesia Gilchrist masing-masing sebagai agen CIA, dan MI-6 dimana kedua Badan Intelijen tersebut bekerja sama erat dengan Mossad Badan Intelijen Israel.
Di era reformasi pada mulanya Mossad dipimpin oleh Yossi Cohen kemudian yang bersangkutan diganti oleh seorang tokoh politik garis keras Israel (kelompok kanan Israel) yaitu David Barnea. Yang bersangkutan sekaligus membawahi divisi Tzomet Mossad, yang tugas utamanya adalah merekrut agen-agen Mossad di dalam negeri dan luar negeri salah satunya adalah berhasil meledakkan tragedi Kanjuruhan yang memakan korban tewas 135 orang namun gagal menjegal pelaksanaan perhelatan G-20 di Bali yang Presidensinya adalah Presiden RI Jokowi dan berhasil dilaksanakan dengan sukses.
Kita harus angkat topi kepada keberhasilan komunitas Intelijen Indonesia yang dengan piawai menggagalkan operasi-operasi spionase yang dilakukan oleh Mossad khususnya rencana mereka untuk mendirikan basis intelijen di Bali (pengakuan Gilchalan agen Iran dan Mossad ketika tertangkap).