SENAYANPOST – Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menegaskan bahwa negosiasi bukanlah penyebab pecahnya perang antara Iran dengan Amerika Serikat dan Israel.
Menurutnya, konflik terjadi karena pihak lawan gagal memaksakan tuntutannya melalui jalur diplomatik.
Dalam wawancara dengan jurnalis Javad Mogoui, Araghchi menjelaskan bahwa keputusan untuk berunding bukan merupakan keputusan pribadi, melainkan hasil keputusan kolektif pemerintah Iran.
"Pertama-tama, itu bukan perintah saya. Ada keputusan di pihak lain untuk mencapai serangkaian tujuan terkait Iran, dan kami mencoba mengarahkan pihak lain ke arah selain perang," kata Araghchi pada 19 Juli 2026, dikutip SenayanPost.com dari Telegram resmi Abbas Araghchi.
Ia mengaku masih banyak kesalahpahaman yang berkembang mengenai hubungan antara proses negosiasi dan pecahnya perang.
"Ada anggapan bahwa negosiasi menyebabkan perang atau bahwa kami bernegosiasi lalu kembali berperang. Itu bukan interpretasi yang benar," ujarnya.
Klaim Israel Anggap Iran Melemah
Araghchi mengatakan perang berawal dari penilaian Amerika Serikat dan Israel bahwa posisi Iran tengah melemah setelah sejumlah perkembangan di kawasan, termasuk gugurnya pemimpin Hizbullah Sayyid Hassan Nasrallah serta perubahan politik di Suriah.
Menurutnya, Israel kemudian meyakini Iran akan mempercepat kemampuan nuklirnya untuk menutupi melemahnya pengaruh regional tersebut.
"Mereka berpikir Iran telah kehilangan daya pengaruh regionalnya dan akan bergerak menuju kemampuan nuklir. Karena itu, mereka ingin menghancurkan kemampuan nuklir Iran sebelum hal itu terjadi," ujarnya.
Ia juga menuding Israel menganggap saat itu sebagai momentum untuk "menyelesaikan" Iran.