SENAYANPOST - Saat ini, perang Amerika Serikat dan Israel melawan Iran menjadi sorotan dunia internasional.
Nampaknya Israel penjajah tidak akan menghentikan apa yang dianggapnya 'ancaman eksistensial' bagi negaranya.
Diketahui, Iran menjadi salah satu daftar negara yang dianggap ancaman eksistensial tersebut.
Hal tersebut terlihat dari retorika dan pidato resmi Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu dalam dua puluh tahun terakhir.
Sementara itu, seorang analis Israel berpendapat bahwa Pakistan atau Turki akan menggantikan Iran sebagai musuh bebuyutan Israel di kawasan tersebut.
Baca Juga: Beda dengan Donald Trump, Israel Penjajah Masih Ingin Perubahan Rezim di Iran
Dalam sebuah opini yang diterbitkan di harian Maariv, Boaz Golani menulis tentang 'pergeseran situasi' di Timur Tengah, seiring dengan berlanjutnya pembicaraan untuk mengakhiri perang melawan Iran.
"(Teheran) akan dipaksa untuk meninggalkan peran sebagai musuh besar Israel," tulis Golani pada 16 April 2026, dikutip SenayanPost.com dari Maariv.
Ia mengatakan 'dibutuhkan' negara baru untuk mengambil alih peran tersebut.
"Di bawah Ali Khamenei, Iran telah melakukan upaya besar selama tiga dekade untuk dengan setia memenuhi peran ini," tulis artikel tersebut.
Lebih lanjut, ia engklaim bahwa perang terbaru melawan Iran, bersamaan dengan krisis ekonomi, telah 'menghapus' kemampuan militer Republik Islam tersebut.
Artikel Maariv tersebut mengusulkan Turki atau Pakistan untuk mengambil alih posisi Iran.
"Tampaknya persaingan telah berakhir antara Turki dan Pakistan," tulis Golani.