SENAYANPOST - Sejumlah pakar militer menilai bahwa kemampuan angkatan laut asimetris Iran menjadi salah satu tantangan utama bagi kekuatan Angkatan Laut Amerika Serikat di kawasan Teluk, terutama di Selat Hormuz.
Menurut analis militer Rusia, Iran mengandalkan apa yang disebut sebagai 'armada nyamuk' (mosquito fleet), yang terdiri dari sekitar 20 kapal selam mini kelas Ghadir serta ribuan kapal cepat bersenjata rudal dan kapal serang ringan.
Kekuatan armada asimetris ini dinilai berpotensi efektif dalam skenario konflik di perairan sempit seperti Selat Hormuz dan Teluk Persia.
Para analis menilai bahwa karakter pertempuran di wilayah semi-tertutup dan selat semakin berubah, dengan peran sistem senjata berukuran kecil yang semakin dominan.
Baca Juga: Analis Keamanan: Iran dan AS Bersiap untuk Negosiasi atau Eskalasi Perang
"Peran armada kecil di perairan sempit dan selat semakin terlihat," demikian pandangan para ahli pada 17 April 2026, dikutip SenayanPost.com dari Sputnik.
Mereka juga menyoroti bahwa penggunaan luas pesawat tanpa awak (UAV) semakin memperkuat tren miniaturisasi aset militer di kawasan tersebut.
Di sisi lain, sedikitnya 20 kapal selam mini kelas Ghadir disebut masih dalam kondisi siap tempur.
Kapal selam ini diklaim mampu membawa dua torpedo kaliber 533 mm atau dua rudal jelajah yang diluncurkan dari bawah laut.
Selain itu, pasukan Garda Revolusi Iran (IRGC) juga disebut memiliki kapal cepat bersenjata rudal, termasuk varian tanpa awak, serta peluncur rudal anti-kapal yang disembunyikan di jaringan terowongan berbatu.
Infrastruktur ini membuatnya sulit dideteksi dan dihancurkan dari udara.
Baca Juga: Iran–Pakistan Bahas Stabilitas Regional, Araghchi Tekankan Komitmen Damai
Iran juga memiliki kemampuan untuk menempatkan ranjau laut di Selat Hormuz, salah satu jalur pelayaran energi paling strategis di dunia.
Di tengah meningkatnya ketegangan, gencatan senjata tidak resmi antara Iran dan Amerika Serikat dilaporkan mendekati batas waktu pada 22 April.