SENAYANPOST – Organisasi Pangan Dunia atau World Food Programme (WFP) mengeluarkan peringatan serius. WFP menyatakan bahwa perang yang sedang berlangsung di Iran berpotensi memicu rekor kelaparan global yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Jika konflik ini terus berlanjut hingga Juni 2026, diperkirakan akan ada tambahan 45 juta orang di seluruh dunia yang terjerumus ke dalam kondisi kelaparan akut.
Dalam laporan yang dirilis oleh Reuters pada Selasa, (17/3/26), Deputi Direktur Eksekutif WFP, Carl Skau, menyampaikan analisis tersebut dalam konferensi pers di Jenewa, Swiss.
Skau menjelaskan bahwa serangan militer yang dimulai sejak akhir Februari lalu telah melumpuhkan jalur-jalur bantuan kemanusiaan yang sangat penting bagi krisis pangan di berbagai belahan dunia.
Baca Juga: Trump Kritik Keras Penolakan Sekutu di Selat Hormuz: Sebut Kurang Balas Budi
Apa Itu WFP dan Kelaparan Akut?
WFP adalah badan di bawah Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang bertugas memberikan bantuan pangan di daerah konflik dan bencana. Sementara itu, istilah "kelaparan akut" merujuk pada kondisi di mana seseorang tidak mampu mengonsumsi cukup makanan sehingga nyawa atau mata pencahariannya berada dalam bahaya mendadak.
Skau mengungkapkan bahwa sebelum perang ini meletus, dunia sebenarnya sudah berada dalam kondisi yang sangat memprihatinkan atau disebut sebagai "badai yang sempurna". Namun, perang di Iran kini memperparah situasi tersebut ke tingkat yang jauh lebih berbahaya.
"Ini akan membawa tingkat kelaparan global ke rekor tertinggi sepanjang sejarah dan ini adalah prospek yang sangat, sangat mengerikan," ujar Skau sebagaimana dikutip oleh Reuters. Ia menambahkan bahwa sebelumnya angka kelaparan global sudah mencapai rekor 319 juta orang, dan tambahan 45 juta orang ini akan menciptakan krisis kemanusiaan yang luar biasa besar.
Pemicu Krisis: Lonjakan Biaya dan Pemotongan Dana
Penyebab utama dari ancaman kelaparan ini adalah lonjakan biaya operasional. Sejak serangan militer dimulai pada Sabtu, (28/2/26), biaya pengiriman logistik WFP telah melonjak sebesar 18 persen.
Baca Juga: Jerman dan Uni Eropa Tolak Gabung Koalisi AS di Iran: Ini Bukan Perang Kami!
Banyak kapal pengangkut bantuan harus memutar rute lebih jauh untuk menghindari zona konflik, yang mengakibatkan keterlambatan pasokan makanan penyelamat jiwa ke negara-negara yang sedang mengalami krisis hebat.
Selain biaya logistik yang mahal, kenaikan harga minyak dunia dan bahan pangan di pasar global turut memperburuk keadaan. Di sisi lain, WFP justru menghadapi pengurangan dana bantuan dari negara-negara donor.