internasional

Trump Kritik Keras Penolakan Sekutu di Selat Hormuz: Sebut Kurang Balas Budi

Selasa, 17 Maret 2026 | 23:03 WIB
Presiden AS Donald Trump kembali keluarkan ultimatum, bakal serang Iran dari pangkalan Diego Garcia di Samudera Hindia beberapa waktu lalu. (X.com/@WhiteHouse)

SENAYANPOST – Presiden Amerika Serikat Donald Trump melontarkan kritik pedas terhadap sejumlah negara sekutu Barat yang menolak permintaannya untuk mengirim kapal perang ke Selat Hormuz. Trump menuding negara-negara tersebut tidak tahu terima kasih setelah bertahun-tahun mendapatkan perlindungan keamanan dari Amerika Serikat.

Laporan terbaru dari Reuters yang disusun oleh Alexander Cornwell dan Jonathan Landay pada Selasa, (17/3/26), menyebutkan bahwa penolakan ini muncul di tengah berkecamuknya perang antara Amerika Serikat-Israel melawan Iran yang kini telah memasuki minggu ketiga.

Konflik tersebut telah melumpuhkan pelayaran di Selat Hormuz, jalur air paling vital di dunia yang menyalurkan sekitar 20 persen pasokan minyak dan gas alam cair global.

Selat Hormuz dapat dianggap sebagai "urat nadi" energi dunia. Jika jalur sempit ini terganggu, pasokan minyak global akan tersendat dan menyebabkan harga bahan bakar di berbagai negara melonjak tajam.

Baca Juga: Jerman dan Uni Eropa Tolak Gabung Koalisi AS di Iran: Ini Bukan Perang Kami!

Saat ini, harga minyak mentah jenis Brent bahkan telah menembus angka 100 dolar per barel akibat penutupan jalur oleh ranjau laut dan serangan pesawat tanpa awak milik Iran.

"Beberapa negara sangat antusias untuk membantu, namun ada juga yang tidak. Beberapa adalah negara yang telah kita bantu selama bertahun-tahun, kita lindungi mereka dari ancaman luar yang mengerikan, namun mereka tidak antusias. Tingkat antusiasme itu sangat penting bagi saya," ujar Trump sebagaimana dikutip oleh Reuters.

Sejumlah negara seperti Jerman, Italia, Spanyol, dan Polandia secara tegas menyatakan tidak memiliki rencana untuk mengirimkan armada laut mereka ke kawasan konflik tersebut. Kanselir Jerman Friedrich Merz menjelaskan bahwa negaranya tidak memiliki "mandat" atau izin resmi dari organisasi internasional seperti PBB atau NATO untuk terlibat.

Sebagai informasi, NATO adalah aliansi pertahanan militer negara-negara Barat. Merz juga mengkritik bahwa Jerman sama sekali tidak diajak berunding sebelum perang dimulai.

Baca Juga: Kanselir Friedrich Merz: Serangan Udara Tak Akan Bisa Ubah Pemerintahan di Iran

Trump sendiri mengakui bahwa permintaannya untuk bantuan pengawalan kapal tangker minyak sebenarnya adalah sebuah "uji loyalitas" bagi para sekutu Amerika Serikat.

Ia memperingatkan bahwa masa depan NATO akan menjadi sangat buruk jika negara-negara anggotanya menolak untuk bekerja sama dalam mengamankan jalur energi mereka sendiri. Di sisi lain, Perdana Menteri Inggris Keir Starmer bersikap lebih hati-hati. Meskipun Trump sempat menyatakan ketidakpuasannya terhadap Inggris karena dianggap lambat merespons.

Starmer menegaskan bahwa London sedang mengusahakan rencana kolektif untuk menjamin kebebasan pelayaran tanpa harus terseret lebih jauh ke dalam perang besar di kawasan Timur Tengah.

Situasi di Washington juga mulai memanas secara internal. Seorang pejabat tinggi kontraterorisme Amerika Serikat dilaporkan mengundurkan diri sebagai bentuk protes. Ia menganggap perang melawan Iran ini merupakan konflik yang dipaksakan dan tidak memiliki dasar ancaman yang nyata bagi keamanan nasional Amerika Serikat. *

Tags

Terkini