internasional

Iran Tanpa Rahbar, Dewan Kepemimpinan Sementara Dibentuk, Citrinowicz Soroti Retaknya Sistem Pengambilan Keputusan

Sabtu, 7 Maret 2026 | 20:07 WIB
Pengamat keamanan Timur Tengah Danny Citrinowicz sorot retaknya sistem pengambilan keputusan Iran usai Ayatollah Ali Khamenei gugur. (X.com/@khamenei_ir)

SENAYANPOST - Analis keamanan Timur Tengah Danny Citrinowicz mempertanyakan siapa yang sebenarnya mengendalikan Iran setelah Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei dinyatakan gugur pada akhir Februari lalu.

Usai Rahbar dikonfirmasi telah gugur, pemerintah Iran membentuk Dewan Kepemimpinan Sementara yang terdiri dari Ketua Lembaga Peradilan Iran, Gholam Hossein Mohseni Ejei, Presiden Iran Masoud Pezeshkian, dan ulama senior Ayatollah Ali Reza Arafi.

 

Menurut Citrinowicz, situasi ini memunculkan tanda-tanda ketidakpastian dalam struktur kekuasaan Iran.

"Pernyataan Presiden Masoud Pezeshkian menimbulkan pertanyaan mendasar: siapa yang sebenarnya mengendalikan Iran saat ini?" tulis Citrinowicz pada 7 Maret 2026, dikutip SenayanPost.com dari X @citrinowicz.

Baca Juga: Perkiraan Intelijen Strategis (Perang Israel–AS Melawan Iran Menuju Fase Akhir)

Ia menjelaskan bahwa sebelumnya banyak pihak berasumsi sistem politik Iran cukup tangguh untuk menghadapi guncangan seperti ini karena telah lama mempersiapkan proses suksesi kepemimpinan.

Namun perkembangan terbaru justru menunjukkan adanya kemungkinan masalah koordinasi di dalam sistem tersebut.

Citrinowicz menyoroti posisi Presiden Pezeshkian yang dinilai memiliki otoritas terbatas dalam struktur kekuasaan Iran.

"Pezeshkian bisa dibilang presiden paling lemah dalam sejarah Republik Islam, dengan otoritas terbatas di antara pusat-pusat kekuasaan rezim," ujarnya.

Baca Juga: Dubes Iran Tegaskan Tidak Ada Negosiasi dengan Amerika Serikat

Ia menambahkan bahwa Pezeshkian dan Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi bahkan mengaku kesulitan menghubungi pasukan di lapangan yang telah menerima instruksi sebelumnya.

Menurut Citrinowicz, kondisi tersebut dapat menunjukkan dua kemungkinan yang sama-sama mengkhawatirkan.

Ia menilai publik tidak dapat mengetahui secara pasti apa yang terjadi di balik layar kekuasaan Iran. Namun, ketika pernyataan politik tidak sejalan dengan tindakan militer di lapangan, hal itu menunjukkan adanya tantangan dalam sistem pengambilan keputusan negara tersebut.

Halaman:

Tags

Terkini