"Pertama, rakyat Palestina telah berjuang selama puluhan tahun demi hak mereka untuk menentukan nasib sendiri dan hak asasi manusia serta politik dasar. Hak-hak ini masih belum terpenuhi, dan selama hal itu masih terjadi, tidak ada rencana yang dapat menyelesaikan krisis tertua dalam sejarah internasional modern ini," jelasnya.
"Isu kedua, yang sering diabaikan, adalah hakikat masyarakat Israel itu sendiri," lanjutnya. Selama dua dekade terakhir, katanya, keseimbangan demografis dan politik Israel telah bergeser ke arah Yahudi Mizrahi (Sephardic), yang memandang seluruh wilayah Palestina historis sebagai 'Tanah Suci Israel' dan menolak kompromi teritorial apa pun.
"Akibatnya, partai-partai sayap kanan yang menyangkal keberadaan bangsa Palestina kini mendominasi politik Israel," ujarnya.
Baca Juga: Pejabat Senior Hamas Sebut Bakal Tetap Menjaga Kendali Keamanan Jalur Gaza, Tolak Pelucutan Senjata
"Transformasi ini telah meminggirkan kelompok-kelompok yang dulu mendukung gagasan solusi dua negara, seperti Partai Buruh, yang kini hanya memiliki segelintir kursi di Knesset," imbuhnya.
"Ini berarti penguasa Israel tidak lagi percaya pada 'perdamaian' atau 'solusi dua negara', dan tidak ada mitra sejati untuk negosiasi," tambahnya.
Kebijakan AS 'Mengupayakan Manajemen Krisis, Bukan Resolusi'
Jaberi Ansari lebih lanjut mengkritik pendekatan historis Washington terhadap konflik tersebut, dengan menyatakan bahwa keterlibatan AS selalu ditujukan untuk mengatasi krisis sementara, alih-alih menyelesaikannya.
"Amerika Serikat hanya melakukan intervensi ketika eskalasi menjadi tak tertahankan, dan setelah ketegangan mereda, mereka kembali mengabaikan isu Palestina," ujarnya.
Ia menekankan bahwa aliansi strategis antara Amerika Serikat dan Israel, dengan Israel berperan sebagai 'penjaga kepentingan Barat di Asia Barat', membuat tekanan AS yang tulus terhadap Israel sangat kecil kemungkinannya.
"Kecuali persamaan fundamental ini berubah, yaitu, penolakan Israel untuk mengakui hak-hak Palestina dan ketiadaan kemauan Amerika yang nyata, peluang keberhasilan rencana apa pun, termasuk rencana Trump, hampir nol," kata Ansari.
Hamas Terima Rencana Tersebut karena Alasan Taktis dan Strategis
Menjelaskan sikap Hamas, Jaberi Ansari mengatakan bahwa gerakan Palestina tersebut belum menerima semua ketentuan proposal Trump.
Hamas mengaitkan tahap-tahap selanjutnya, seperti perlucutan senjata atau keputusan tentang masa depan politik Gaza dengan konsensus internal Palestina, dan menegaskan bahwa masalah-masalah tersebut harus diselesaikan hanya melalui kemauan nasional yang bersatu.