SENAYANPOST - Krisis Suriah yang berjalan lebih dari satu dekade bukanlah persoalan internal semata, melainkan panggung bagi kepentingan geopolitik besar yang saling bertarung.
Pernyataan terbaru ekonom kenamaan Amerika Serikat (AS), Jeffrey Sachs, di Antalya Diplomacy Forum pada April 2025 kembali mengingatkan publik bahwa AS memegang peran sentral dalam memperburuk krisis Suriah.
"Perang ini bukan berasal dari Bashar al Assad. Perang ini berasal dari Washington (AS) dan Yerusalem (Israel)," tegas Jeffrey Sachs, menyudutkan narasi yang selama ini menempatkan Assad sebagai dalang utama perang.
Sachs menjelaskan bahwa sejak 2011, keputusan Washington untuk menggulingkan rezim Assad melalui operasi rahasia yang dikenal dengan nama Timber Sycamore telah membuka pintu bagi beragam kelompok bersenjata, termasuk jihadis, untuk tumbuh dan berperang.
Dukungan militer, intelijen, dan finansial dari AS dan sekutunya menjadikan perang Suriah tidak hanya perang saudara, tapi juga perang proksi yang menyengsarakan jutaan orang.
Tiga Isu Panas yang Mempertegas Relevansi Pernyataan Sachs
Hampir empat bulan sejak pernyataan Sachs, situasi Suriah justru semakin pelik dan penuh ketegangan.
Tiga isu utama muncul sebagai gambaran betapa konflik ini masih jauh dari kata damai:
1. Normalisasi Hubungan Israel-Suriah: Pilih Jalan Perdamaian atau Pengkhianatan?
Wacana normalisasi hubungan diplomatik antara Suriah dan Israel yang dulu nyaris tak terbayangkan kini mulai menguat, menimbulkan polemik hebat.
Kelompok oposisi dan perlawanan, termasuk yang berada di bawah pengaruh HTS, menganggap normalisasi sebagai pengkhianatan terhadap rakyat Palestina dan perjuangan anti-Israel selama puluhan tahun.
Namun, ada yang melihat langkah ini sebagai strategi pragmatis rezim baru Damaskus untuk mendapatkan dukungan internasional dan mengakhiri isolasi.