Transformasi ini menunjukkan realitas pahit dari konflik Suriah: peran militan yang dulu cuma fokus perang kini harus beralih menjadi aktor politik yang punya tanggung jawab memerintah dan mengatur kehidupan rakyat.
Tapi jangan cepat percaya narasi 'transformasi mulia' ini. Ada sisi gelap dan pragmatisme politik yang harus kita waspadai.
Pengakuan Ford sesungguhnya membuka tabir bahwa negara-negara besar, termasuk AS, tidak segan-segan menggunakan aktor-aktor bersenjata sebagai alat untuk memperjuangkan kepentingan politik mereka.
Baca Juga: Opini: Menilik Klaim Jihad HTS di Suriah, antara Ilusi Perlawanan dan Realitas Penindasan
Proses perubahan citra dari teroris ke politisi bukan karena perubahan ideologi atau moral, tapi lebih karena kebutuhan strategis.
Konsekuensi dari langkah ini tidak kecil. Kelompok yang dulu dikategorikan sebagai ancaman teror internasional kini justru memperoleh legitimasi politik dan kekuasaan lokal yang signifikan.
Ford sendiri menegaskan bahwa Al Julani tidak pernah meminta maaf atas serangan masa lalunya, menandakan ini hanyalah pergeseran taktik, bukan perubahan prinsip.
Fenomena ini bukan hal baru dalam sejarah konflik; kekuatan besar selalu memanfaatkan kelompok bersenjata sebagai pion politik, mempermainkan label teroris dan politisi sesuai kebutuhan mereka.
Sebagai pengamat dan jurnalis, kita harus bersikap kritis dan skeptis terhadap narasi resmi.
Jangan sampai kita jadi korban propaganda yang membungkus kepentingan politik dengan kata-kata manis 'diplomasi' dan 'perdamaian'.
Transformasi semacam ini harus membuat kita bertanya: Apakah perubahan ini benar-benar membuka jalan menuju perdamaian yang adil?
Atau ini cuma pergantian topeng dalam permainan politik yang sama, yang malah memperpanjang penderitaan rakyat Suriah?
Sejarah akan mencatat siapa yang mengendalikan narasi, dan siapa yang jadi korban dalam kisah kelam ini.
Maka, sebagai bagian dari publik yang peduli, tugas kita adalah membuka mata dan menyuarakan kebenaran di tengah pusaran kepentingan besar yang sering menutupi fakta.***