Lebih jauh, Hendropriyono mewanti-wanti soal peran intelijen—terutama pihak-pihak yang ia sebut sebagai 'intel jahat'—yang bisa memanfaatkan situasi konflik global untuk menciptakan kekacauan di dalam negeri, termasuk Indonesia.
"Saya melihat kartu intel akan main, adu domba. Karena itu saya sangat takut di Jakarta, di Indonesia ini, begitu sedikit ada konflik saya coba redam," ujarnya.
Ia mengimbau agar masyarakat tetap kritis terhadap pemerintah, namun dengan cara yang bertanggung jawab.
"Kalau ada kritik kepada pemerintah bukan berarti harus membabi-buta, bukan," tegasnya.
"Sampaikan saja dengan caranya. Tidak usah mencari massa, memprovokasi," tambahnya.
Menurutnya, tindakan provokatif justru membuka celah bagi operasi intelijen jahat yang dapat memperkeruh keadaan.
"Karena ini nanti keenakan intel ‘jahatnya’ di-blow up, itu murah sekali. Apalagi kita langganan penggulingan," ujarnya sambil terkekeh.
Hendropriyono menutup pernyataannya dengan menyindir transisi kekuasaan di Indonesia yang dinilainya penuh gejolak.
"SBY ke Jokowi, terus sekarang Jokowi ke Prabowo. Yang lain kan babak belur," pungkasnya.***