SENAYANPOST - Setidaknya ratusan warga Palestina yang ditahan Israel penjajah belum lama ini dibebaskan sebagai bagian dari kesepakatan gencatan senjata.
Terlihat warga Palestina yang dibebaskan tersebut menunjukkan tanda-tanda penyiksaan dan kelaparan.
Diketahui, lebih dari 600 warga Palestina dibebaskan pada hari Kamis, tak lama setelah Israel mengatakan Hamas menyerahkan peti mati berisi empat tawanan.
Sebelumnya, Israel telah menunda pembebasan dua wanita Palestina dan 44 anak-anak.
Baca Juga: Teknologi Iran Dapat Dukung Program Pemeriksaan Kesehatan Gratis Presiden Prabowo Subianto
Itu adalah pertukaran terakhir yang dijadwalkan sebagai bagian dari fase pertama kesepakatan gencatan senjata antara Hamas dan Israel.
Beberapa warga Palestina diangkut dengan ambulans ke Rumah Sakit Eropa di Khan Younis di Gaza selatan karena parahnya luka-luka mereka.
Banyak warga Palestina juga dikirim ke Mesir dan Tepi Barat yang diduduki.
Alaa Al Bayari, seorang warga Palestina yang dibebaskan ke Kota Gaza, mengatakan kepada wartawan bahwa ia menyaksikan 'penyiksaan, pemukulan, penghinaan, dan semua yang dapat Anda bayangkan' saat berada di penjara Israel.
Baca Juga: Prabowo Paparkan Kebijakan untuk Indonesia Berdikari Ekonomi, Devisa Hasil Ekspor hingga Danantara
Ia bertemu dengan putrinya yang berusia satu tahun untuk pertama kalinya.
"Kami ditelanjangi, disiram air, lalu mereka menggunakan listrik untuk menyiksa," kata Alaa Al Bayari pada 27 Februari 2025, dikutip SenayanPost.com dari Al Jazeera.
Yahya Shrida, seorang tahanan Palestina yang dibebaskan ke Ramallah, menggambarkan penjara Israel sebagai kuburan.
"Kami telah terbebas dari penderitaan. Rasanya seperti kami telah digali dari kuburan kami sendiri. Tidak ada tahanan yang pernah mengalami pembebasan mereka sendiri tertunda dua kali," kata Yahya Shrida.