Baca Juga: Donald Trump Sebut AS Ingin Kuasai Gaza, Warga Palestina Tak Punya Opsi Selain Angkat Kaki
Selama kunjungannya ke AS, Netanyahu menegaskan kembali penolakannya terhadap negara Palestina.
"Terutama bukan negara Palestina," katanya kepada wartawan pada hari Kamis. "Setelah 7 Oktober? Tahukah Anda apa itu? Ada negara Palestina; yang disebut Gaza. Gaza, yang dipimpin oleh Hamas, adalah negara Palestina dan lihat apa yang kita dapatkan," kata Netanyahu.
Komentarnya menyusul konferensi pers bersama dengan Donald Trump, di mana presiden AS mengumumkan rencananya untuk mengusir warga Palestina dari Gaza dan mengubah daerah kantong Palestina itu menjadi 'Riviera Mediterania', dengan AS mengambil alih wilayah tersebut.
Kedua pemimpin membahas normalisasi dengan Arab Saudi, dan Netanyahu dengan tegas menolak syarat utama Arab Saudi untuk mendirikan negara Palestina sambil menegaskan bahwa perdamaian antara Israel dan kerajaan itu adalah kenyataan yang akan datang.
"Itu tidak hanya layak, saya pikir itu akan terjadi," katanya.
Konferensi pers itu segera diikuti oleh pernyataan dari kementerian luar negeri Arab Saudi, yang menegaskan kembali sikap kerajaan terhadap kenegaraan Palestina adalah 'tegas dan tak tergoyahkan'.
"Yang Mulia (Putra Mahkota Mohammed bin Salman) menekankan bahwa Arab Saudi akan melanjutkan upayanya yang tak kenal lelah untuk mendirikan negara Palestina yang merdeka dengan Yerusalem Timur sebagai ibu kotanya dan tidak akan menjalin hubungan diplomatik dengan Israel tanpa itu," bunyi pernyataan itu.
Pada hari Jumat, beberapa anggota parlemen Inggris mengecam saran Netanyahu.
Anggota parlemen dari Partai Buruh Afzal Khan mengatakan pada wartawan.
"Orang Palestina tidak membutuhkan lebih banyak pengungsian. Mereka membutuhkan tanah air yang bebas. Usulan biadab Netanyahu adalah pemindahan paksa penduduk dan rencana untuk membersihkan Gaza secara etnis," jelasnya.
Anggota parlemen Partai Buruh lainnya, Kim Johnson, mengatakan kepada MEE bahwa komentar Netanyahu 'tidak masuk akal dan menghina'.***