Retorika Netanyahu juga telah melunak. Awalnya, ia bersumpah untuk tidak mengakhiri genosida hingga Hamas disingkirkan.
Sekarang, ia menggambarkan gencatan senjata dan kesepakatan pertukaran sebagai sesuatu yang 'perlu', yang mencerminkan pengaruh AS yang signifikan.
Baca Juga: Sejarawan Israel Ilan Pappe: Ini Fase Terakhir Zionisme
Dr. Ahmed Al-Hila, seorang analis politik, berpendapat bahwa sikap tegas Trump telah membuat Netanyahu tidak punya banyak pilihan.
"Tidak ada kekuatan besar yang akan membiarkan kepentingannya atau kepentingan sekutu utamanya ditentukan oleh agenda pribadi seorang pemimpin," kata Al-Hila.
Ia yakin penolakan Netanyahu terhadap tuntutan Trump dapat membahayakan tujuan strategis Israel yang lebih luas, termasuk hubungannya dengan Arab Saudi dan upaya untuk melawan Iran.
Ehab Jabbarin, seorang pakar urusan Israel, sependapat, seraya menambahkan bahwa keterlibatan Trump sangat kontras dengan Presiden Joe Biden yang akan lengser, yang hanya memberikan sedikit tekanan pada Israel.
Baca Juga: Joe Biden Kirim Tentara Atasi Penjarahan di Los Angles
Jabbarin menyatakan bahwa Washington telah memanfaatkan pengaruhnya untuk mendorong Netanyahu menuju kesepakatan, dengan potensi insentif—atau konsekuensi—yang dikaitkan dengan dukungan AS.
Kegagalan Militer Perkuat Tekanan Domestik dan Internasional
Kekalahan militer Israel di Gaza semakin melemahkan posisi Netanyahu.
Meskipun mengklaim kemajuan dalam melenyapkan Hamas, pasukan Israel menghadapi kemunduran yang signifikan, khususnya di Gaza utara.
Kelompok perlawanan Palestina, yang dipimpin oleh Hamas, telah menimbulkan banyak korban, yang melemahkan narasi Israel tentang kendali.
Baca Juga: Media Pro-Pemerintah Mesir Kritik Ahmed Al Mansour di Tengah Ancaman Protes yang Terus Meningkat
Salah satu titik balik adalah kerugian besar yang diderita oleh Brigade Nahal elit selama serangan berulang kali di Beit Hanoun.