SENAYANPOST - Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz menargetkan kekalahan total atas Hamas di Jalur Gaza.
Hal ini disampaikan Katz jelang pelantikan Presiden AS terpilih, Donald Trump.
Sebagaimana diketahui, kampanye genosida yang dilakukan Israel penjajah sudah memasuki hari ke-464.
Katz mengatakan tentara harus menyusun strategi untuk mengalahkan sepenuhnya Hamas di Gaza.
Ia juga menekankan bahwa rencana tersebut akan dimulai jika tawanan yang ditahan oleh perlawanan tidak dibebaskan pada saat Presiden terpilih AS Donald Trump menjabat.
Baca Juga: Hamas Ingin Gencatan Senjata Secepatnya di Gaza dengan Israel, Korban Syahid Hampir 46 Ribu Orang
Presiden AS terpilih Donald Trump yang baru-baru ini mengancam bahwa 'semua akan kacau' jika tawanan Israel tidak dibebaskan pada saat ia memangku jabatan presiden.
Katz menolak gagasan solusi politik dan mengatakan tidak ada kekuatan Arab atau internasional yang akan mengambil alih kepemimpinan pemerintahan Gaza pascaperang tanpa keruntuhan total Hamas.
"Para komandan dan prajurit kita tengah melancarkan pertempuran heroik, tetapi kita harus menyesuaikan strategi kita untuk memberikan kemenangan militer yang menentukan dan mengakhiri perang di Gaza," kata Israel Katz pada 10 Januari 2025, dikutip SenayanPost.com dari The Cradle.
"Kita tidak boleh terseret ke dalam perang yang menguras habis-habisan di Gaza. Solusi politik untuk Gaza tidak relevan... karena tidak ada negara Arab atau otoritas lain yang akan bertanggung jawab untuk mengelola kehidupan sipil di Jalur Gaza selama Hamas belum sepenuhnya dihancurkan," tambahnya.
Baca Juga: 82 Ribu Lebih Warga Israel Lakukan Eksodus Gegara Perang di Gaza, Terus Meningkat Tahun 2024
Perintah menteri pertahanan itu dikeluarkan 15 bulan setelah perang Israel yang brutal dan genosida terhadap Gaza, yang, meskipun tujuannya telah dinyatakan, telah gagal mengalahkan Hamas dan mencegahnya untuk menyusun kembali dan membangun kembali barisannya.
Rencana Jenderal yang mematikan, yang telah menghancurkan rumah sakit di Gaza utara dan membuat ratusan ribu orang mengungsi, sebagian bertujuan untuk mengisolasi dan membuat perlawanan kelaparan.
Meskipun kondisi di dalam Gaza sangat buruk, sayap bersenjata Hamas, Brigade Qassam, telah berhasil memperkuat barisannya secara terus-menerus.