internasional

Sebelum Digulingkan HTS, Bashar Al Assad Sebut Turki Dukung Oposisi Bersenjata

Senin, 16 Desember 2024 | 22:00 WIB
Mantan presiden Suriah Bashar Al Assad menyebut keterlibatan Turki dalam usaha penggulingannya oleh oposisi bersenjata HTS. (X.com/@Presidency_Sy)

SENAYANPOST - Mantan Presiden Suriah Bashar Al Assad sempat keluhkan soal Turki terkait keterlibatannya negara itu dalam usaha penggulingan dirinya kepada Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi.

Informasi tersebut terkuak beberapa hari setelah Assad digulingkan oposisi bersenjata Hayat Tahrir Al Sham (HTS) yang dipimpin oleh Abu Mohammad Al Julani.

Ketika oposisi bersenjata HTS, yang sebelumnya berpihak pada al Qaeda, merebut kota-kota besar dan maju menuju ibu kota, Assad bertemu dengan Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi di Damaskus pada tanggal 2 Desember.

Baca Juga: Assad Jatuh, Hizbullah Ungkap Kehilangan Jalur Pasokan Lewat Suriah

Pada pertemuan tersebut, Assad menyuarakan kemarahannya atas apa yang ia katakan sebagai upaya intensif Turki untuk menggulingkannya, menurut seorang pejabat senior Iran.

Araghchi meyakinkan Assad tentang dukungan Iran yang berkelanjutan dan berjanji untuk mengangkat isu tersebut dengan Ankara, kata pejabat tersebut.

Keesokan harinya, Araqchi bertemu dengan Menteri Luar Negeri Turki Hakan Fidan untuk menyampaikan kekhawatiran mendalam Teheran atas dukungan Ankara terhadap kemajuan pemberontak.

"Pertemuan itu menegangkan. Iran menyatakan ketidaksenangannya dengan keberpihakan Turki terhadap agenda AS dan Israel dan menyampaikan kekhawatiran Assad," kata pejabat Iran tersebut pada 15 Desember 2024, dikutip SenayanPost.com dari Reuters.

Baca Juga: Abu Mohammad Al Julani Sebut Tak Ingin Terlibat Konflik dengan Israel

Ini mengacu pada dukungan Ankara terhadap pemberontak dan kerja sama dengan kepentingan Barat dan Israel dalam menargetkan sekutu Iran di wilayah tersebut.

Fidan, kata pejabat tersebut, menyalahkan Assad atas krisis tersebut, dengan menegaskan bahwa kegagalannya untuk terlibat dalam perundingan damai yang sejati dan pemerintahannya yang represif selama bertahun-tahun merupakan akar penyebab konflik tersebut.

Sumber kementerian luar negeri Turki yang mengetahui perundingan Fidan mengatakan bahwa itu bukanlah pernyataan Fidan yang sebenarnya, dan menambahkan bahwa Araghchi tidak membawa dan menyampaikan pesan apa pun dari Assad kepada Turki, tanpa menjelaskan lebih lanjut.

Baca Juga: Israel Kirim Pesan ke Abu Mohammad Al Julani Penguasa Baru di Suriah, Ini Isinya

Fidan mengatakan kepada wartawan di Doha pada hari Minggu bahwa rezim Assad 'memiliki waktu yang berharga' untuk mengatasi masalah-masalah yang ada di Suriah, tetapi tidak melakukannya, dan malah membiarkan 'rezim tersebut mengalami kemunduran dan keruntuhan secara perlahan'.

Halaman:

Tags

Terkini