SENAYANPOST - Satu tahun terakhir, Timur Tengah makin memanas akibat pembantaian yang berlangsung di Gaza, Palestina.
Tidak sedikit dalam diskusi Timur Tengah, khususnya apa yang terjadi di Palestina ini melibatkan sentimen sektarian antara Sunni dan Syiah.
Pengamat Timur Tengah, Hatem Bazian mengungkapkan bagaimana dunia Barat menyebarkan kebohongan soal 'perseteruan Sunni dan Syiah'.
Bazian mengungkapkan bahwa dalam narasi Barat, Sunni harus melawan Syiah di Timur Tengah, begitu juga dengan sebaliknya, Syiah harus melawan Sunni.
Baca Juga: Biadab! Israel Penjajah Serang RS Syuhada Al Aqsa hingga Bakar Hidup-hidup Warga Palestina
"Jika Anda sudah mengetahuinya selama beberapa hari, retorika tentang perang dan kekacauan Sunni-Syiah yang tidak pernah berakhir tidak pernah jauh dari benak para pemimpin politik Barat, penghuni lembaga pemikir, para pemimpin Timur Tengah yang bersekutu dengan Barat, pembicara di media, pengguna media sosial yang teracuni, dan penceramah agama yang ditunjuk oleh kekaisaran, semuanya membantu dan mendukung proses perang, bertindak sebagai pedagang kematian dan kehancuran sambil mengklaim bekerja untuk perdamaian," kata Hatem Bazian pada 11 Oktober 2024, dikutip SenayanPost.com dari Middle East Eye.
Menurut Bazian, narasi Sunni dan Syiah itu dipicu oleh kolonialisme.
"Konflik lintas sejarah Sunni-Syiah yang direkayasa dan dipicu oleh kolonialisme telah digunakan untuk menjelaskan perang Eropa-Amerika, kekerasan Zionis, dan intervensi asing di wilayah tersebut," terangnya.
Narasi tersebut dimanfaatkan oleh para imperialis untuk mengadu domba antara bangsa Arab.
"Kebijakan lama atau baru untuk mengadu domba dan menguasai ditunjukkan secara terbuka, dengan banyaknya partisipan dan jaringan intelijen yang bekerja siang dan malam untuk menjaga api kematian tetap menyala," lanjutnya.
"Seseorang dapat berkomitmen pada pemahaman mereka sendiri tentang sejarah Islam dan perpecahan yang ada - baik teologis, tekstual, politis, nasional atau etnis - sambil menolak strategi yang dipicu oleh kolonialisme untuk mempersenjatai dan menginstrumentalisasi perpecahan tersebut untuk lebih jauh mendominasi wilayah dan rakyatnya," ujarnya.
Ini juga tidak lepas dari fakta bahwa negara-negara Timur Tengah memiliki sumber daya minyak dan gas alam yang melimpah.
Baca Juga: Israel Penjajah Kepung Kamp Jabalia di Gaza Utara, 400 Ribu Warga Terjebak