Dia menambahkan bahwa Yordania memiliki pandangan yang sama dengan Palestina bahwa pembatasan tersebut merupakan serangan terhadap kebebasan beribadah.
Pencegahan jamaah memasuki Al-Aqsa terjadi pada saat yang sama ketika warga Palestina di Gaza terpaksa melaksanakan salat di luar ruangan di tengah reruntuhan, menyusul pemboman Israel selama lebih dari lima bulan dan kehancuran total hampir semua masjid di Gaza.
Warga Palestina di Gaza mengatakan kepada wartawan bahwa mereka khawatir dengan bulan suci ini, karena lebih dari 31.000 warga Palestina telah terbunuh di Jalur Gaza sejak bulan Oktober, sementara 70.000 lainnya terluka.
Baca Juga: Masuk Bulan Ramadhan, MUI Imbau Boikot Produk Penjajah Israel: Agar Tidak Menyerang Lagi Palestina
PBB juga telah mengumumkan bahwa 80 persen wilayah Jalur Gaza kini tidak dapat dihuni, sementara kelaparan yang meluas telah mencengkeram sebagian besar wilayah Gaza. Setidaknya 27 orang tewas akibat kelaparan dan kelaparan sejak dimulainya perang.
"Kita sekarang hidup dalam kondisi yang lebih buruk daripada Nakba," kata Diab al-Zaza kepada wartawan, mengacu pada periode ketika warga Palestina dibunuh atau diusir dari rumah mereka ketika negara Israel berdiri.
"Pada masa Nakba jumlah orangnya lebih sedikit dan negaranya terbuka, tapi sekarang kami dikepung dari semua sisi," tambahnya.***