SENAYANPOST - Juru bicara Abu Ubaidah dari sayap militer Hamas mengatakan dalam pidato terbarunya bahwa tidak ada kompromi terkait negosiasi gencatan senjata di Gaza.
Memasuki hari ke-154 dan bulan suci Ramadhan, Abu Ubaidah menegaskan bahwa Hamas dan faksi Perlawanan Palestina yang lainnya sepakat untuk tetap pada permintaan yang sama terkait negosiasi gencatan senjata dalam lima bulan terakhir ini.
Tidak hanya itu, Abu Ubaidah juga menggarisbawahi juga soal pertukaran tawanan antara penjajah Israel dan Palestina.
Pembicaraan terkait pertukaran tawanan baru bisa dilakukan setelah gencatan senjata permanen di Gaza berikut dengan penarikan seluruh tentara penjajah Israel dari daerah kantong tersebut.
"Meskipun kami telah menjalin hubungan positif dengan para mediator, prioritas utama kami untuk mencapai kesepakatan pertukaran tawanan adalah komitmen penuh terhadap penghentian agresi terhadap rakyat kami. Hal ini termasuk penarikan penuh musuh, pemulangan pengungsi, dan rekonstruksi (Gaza)," kata Abu Ubaidah dalam pidatonya yang disampaikan pada 8 Maret 2024.
Baca Juga: Pidato Abu Ubaidah di Hari ke-154: Jadikan Ramadhan sebagai Bulan Jihad dan Kemenangan
"Kami tidak berkompromi dalam masalah fundamental dan kemanusiaan ini," tegasnya.
Menurutnya, usulan apa pun yang tidak memasukkan prinsip-prinsip kemanusiaan akan sia-sia.
"Usulan apa pun yang tidak memasukkan prinsip-prinsip kemanusiaan ini tidak ada gunanya atau menjadi perhatian bagi rakyat dan Perlawanan kami," ujarnya.
Sementara itu, Israel masih kukuh dengan pendiriannya untuk melakukan gencatan senjata selama bulan Ramadhan dan tidak akan meninggalkan tanah Gaza.
"Tidak ada yang lebih diutamakan daripada mengatasi luka-luka rakyat kami, yang menghadapi genosida karena desakan mereka terhadap hak-hak mereka dan mempertahankan tanah dan kesucian tanah mereka," ungkapnya tentang negosiasi yang dimediasi antara Perlawanan dan otoritas Israel.
Abu Ubaidah juga menekankan bahwa kelaparan yang menyebar di Jalur Gaza berpengaruh kepada para tawanan.
"(Israel) telah melampaui kebrutalan Nazi… (memaksakan) kelaparan yang disengaja, di mana dunia menyaksikan pembunuhan para ayah yang berusaha menafkahi anak-anak mereka dan kelaparan serta kematian anak-anak dalam kejahatan perang yang paling keji," lanjut juru bicara Brigade Al Qassam itu.