SENAYANPOST - Putra sulung kepala biro Al Jazeera, Hamza Al Dahdouh bersama rekannya Mustafa Thuraya syahid akibat serangan udara Israel belum lama ini.
Hamza Al Dahdouh yang merupakan putra dari Wael Al Dahdouh ditemukan meninggal dunia bersama rekannya di Khan Younis.
Sebelumnya, penjajah Israel telah menargetkan beberapa anggota keluarga Wael Al Dahdouh dalam serangan mematikan ini.
Sebagaimana dilansir SenayanPost.com dari Middle East Eye, Hamza dan rekannya Mustafa tewas di Khan Younis ketika sebuah rudal Israel langsung mengenai kendaraan yang mereka tumpangi.
Baca Juga: Nonton Welcome to Samdalri Sub Indo, Lengkap dengan Spoiler Episode 12
Pada bulan Oktober, Wael kehilangan istri, putrinya, putra lainnya, dan cucunya setelah mereka terbunuh oleh serangan udara Israel saat berlindung di rumah seorang kerabat.
Bulan lalu, Wael sendiri terluka akibat serangan Israel yang menewaskan rekannya di Al Jazeera, Samer Abudaqa.
Wael dianggap oleh banyak orang di dunia Arab sebagai wajah liputan Al Jazeera di Gaza.
Kantor media Gaza pada hari Minggu mengecam pembunuhan dua jurnalis yang dilakukan Israel, dengan mengatakan Israel mengecam 'dengan kerasnya kejahatan keji ini'.
Baca Juga: Link Live Streaming Debat Capres Pemilu 2024 di Istora Senayan, Tema Pertahanan hingga Geopolitik
Ia menambahkan bahwa Israel bertujuan untuk 'mengintimidasi jurnalis dalam upaya yang gagal untuk mengaburkan kebenaran dan mencegah liputan media', dan menyerukan 'pendudukan untuk menghentikan perang genosida terhadap orang-orang kami yang tidak berdaya di Jalur Gaza'.
Serangan udara tersebut juga mengakibatkan dua jurnalis terluka, Ahmed Al-Burash dan Amer Abu Amr, keduanya bekerja untuk Palestine Today TV.
Sindikat Jurnalis Palestina telah mendokumentasikan pembunuhan 102 jurnalis dan cederanya 71 lainnya oleh pasukan pendudukan Israel pada tahun 2023 saja.
Wael Al-Dahdouh yang merupakan kepala biro Al Jazeera sebelumnya kehilangan istri, putra dan putrinya dalam serangan udara Israel yang menargetkan rumah tempat mereka berlindung di kamp pengungsi Nusseirat pada akhir Oktober 2023.