SENAYANPOST - Samer Abu Daqqa jadi jurnalis ke-89 yang tewas bersama beberapa orang lainnya dalam serangan drone Israel di sebuah sekolah Khan Younis, Gaza.
Saat itu, Samer Abu Daqqa bertugas bersama Wael Al Dahdouh, kepala biro Al Jazeera di Palestina.
Dalam rilis resminya, Al Jazeera mengutuk keras tindakan Israel yang menargetkan jurnalis dan keluarganya di tengah situasi peperangan ini.
Sebelumnya, keluarga Wael Al Dahdouh menjadi korban bombardir Israel.
Jaringan tersebut meminta pertanggungjawaban Israel karena secara sistematis menargetkan dan membunuh jurnalis Al Jazeera dan keluarga mereka.
Dalam pemboman hari ini di Khan Younis, pesawat tak berawak Israel menembakkan rudal ke sebuah sekolah tempat warga sipil mencari perlindungan, yang mengakibatkan banyak korban jiwa.
Setelah Samer terluka, dia mengalami pendarahan selama lebih dari 5 jam, karena pasukan Israel mencegah ambulans dan petugas penyelamat untuk menghubunginya, sehingga tidak memberikan perawatan darurat yang sangat dibutuhkan.
Jaringan Media Al Jazeera menyampaikan belasungkawa yang tulus kepada keluarga mendiang rekannya Samer Abudaqa di Gaza dan di Belgia.
Baca Juga: Buntut Serangan Houthi Yaman, Perusahaan Kapal Kontainer Ini Tunda Pelayaran Lewat Laut Merah
Dengan terbunuhnya Samer Abudaqa, jumlah jurnalis dan pekerja media yang terbunuh di Gaza mencapai lebih dari 90 orang.
Al Jazeera mendesak komunitas internasional, organisasi kebebasan media, dan Pengadilan Kriminal Internasional untuk segera mengambil tindakan guna meminta pertanggungjawaban pemerintah dan militer Israel atas tindakan pembantaian dan kejahatan terhadap kemanusiaan ini.
Dimakamkan di Gaza Selatan
Samer Abu Daqqa telah dimakamkan di Gaza Selatan, puluhan pelayat, termasuk jurnalis, memberikan penghormatan kepada juru kamera yang tewas dalam serangan pesawat tak berawak Israel.