Manusia sebetulnya mampu mencari sumber energi alternatif yang aman seperti sinar matahari, panas bumi, angin (bayu), air, dan gelombang laut. Tapi sayangnya, dengan alasan mahal secara ekonomi, sumber energi alternatif tersebut kurang mendapat dukungan.
Itulah sebabnya di KTT Iklim Dubai, ramai diperbincangkan, bagaimana meningkatkan pemakaian energi alternatif. Sejumlah negara, termasuk Indonesia, berkomitmen meningkatkan kapasitas energi terbarukan sebanyak 3 kali lipat untuk kebutuhan global.
Ini artinya, kapasitas global energi terbarukan akan meningkatkan dari 3,4 terawatt pada tahun 2022 menjadi 11 terawatt pada tahun 2030.
Selain itu, 50 perusahaan migas yang mewakili lebih dari 40% produksi minyak global menandatangani Perjanjian Dekarbonisasi Minyak dan Gas (OGDC).
Bagaimana Indonesia sendiri? Jakarta sudah berkomitmen untuk menurunkan emisi karbon nol persen pada tahun 2060. Mampukah?
Baca Juga: Lirik Lagu CRAZY FORM, ATEEZ, Nyanyi Bareng-bareng Asik nih
Sejauh ini, yang dibanggakan Indonesia adalah keberhasilan dalam menurunkan emisi karbon dari lahan hutan. Betul, Jakarta sudah melakukan reboisasi kerusakan hutan dan moratorium penebangan hutan, khususnya di Era SBY dan Jokowi. Tapi kendalanya, emisi karbon dari migas dan batu bara, masih belum teratasi.
Kebutuhan industri di Indonesia masih tergantung dari migas dan batu bara. Dan pemerintah tampaknya masih akan terus mengeksploitasi tambang migas dan batu baru untuk kebutuhan industri, demi mencapai Indonesia emas di tahun 2045.
Ambisi untuk mencapai Indonesia Emas tahun 2045 dengan komitmen nol persen emisi karbon, tampaknya belum sinkron. Padahal jika Jakarta serius untuk mencapai nol persen emisi di tahun 2060, sumber energi alternatifnya sudah tersedia. Indonesia kaya panas bumi, energi air, energi bayu, dan gelombang laut.
Persoalannya, seriuskah Jakarta mereformasi kebijakan energinya secara konsisten? Inilah tantangannya. Dari cita-cita menuju Indonesia Emas di tahun 2045 menjadi Indonesia nol emisi karbon 2060 hanya terpaut waktu 20 tahun.
Jika kedua "event penting" itu berjalan sendiri-sendiri, niscaya tidak akan berhasil. Sebaliknya, jika sejak sekarang menerapkan kolaborasi kebijakan seluruh stake holder di bidang energi, niscaya kedua cita-cita luhur itu akan berhasil.
Tercapainya Indonesia Emas berbarengan dengan Indonesia Segar dan Nyaman tanpa Emisi Karbon. Semoga!.***