Kenapa? Jika kenaikan suhu bumi dibiarkan lebih dari 1,5 derajat celcius, maka "kiamat bumi" akan terjadi pada tahun 2030.
Baca Juga: Mantap, Seluruh Sepeda Motor Honda Garansi Rangka 5 Tahun Tanpa Batas Kilometer
UNEP memprediksi, saat itu, 210 juta orang mengalami kekurangan air, 14% populasi akan terpapar gelombang panas, dan 290 juta rumah akan terendam banjir pesisir, hingga 600 juta orang akan mengalami malnutrisi akibat gagal panen.
Organisasi Meteorologi Dunia, Mei 2023, melaporkan bahwa dengan tren kenaikan emisi karbon saat ini, suhu bumi mungkin akan naik 1,5 derajat Selsius di tahun 2027.
Sebelum 2030, ini artinya hanya 4 tahun dari COP 28 Dubai, dunia akan mengalami katastrop iklim yang luar biasa.
Jika kondisi ini dibiarkan, kiamat bumi sudah di ambang pintu seperti diperingatkan Paus Fransiskus Juli 2023 lalu. Manusia sebagai pelaku sejarah dan peradaban dunia, seharusnya bisa mencegah kiamat dini akibat emisi karbon berlebihan tersebut. Manusia punya segalanya -- ilmu, teknologi, dan ekonomi -- untuk mengatasi semua itu.
Baca Juga: Opini: Yogyakarta dan Sri Sultan dalam Memperjuangkan NKRI
Panas dan banjir merupakan dua sisi mata uang yang sama, dalam bencana ekosistem yang sebagian besar akibat ulah manusia.
Kerusakan hutan yang makin luas, kian besarnya konsentrasi gas karbon dioksida di udara, dan banyaknya pencemaran di darat, laut, dan udara telah merusak ekosistem bumi.
Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC) dua dekade lalu memprediksi kenaikan suhu atmosfir bumi antara 0,5 derajat Selsius tiap satu dekade dapat menaikkan permukaan air laut sampai setinggi satu meter di pertengahan abad 21.
Bila hal itu terjadi, maka sebagian wilayah pantai Amerika, Eropa, dan Asia akan tenggelam. Hal ini sudah diderita negara kepulauan di musim laut pasang seperti Maldive di laut selatan India, Pulau Marshall, Tuvalu, Karibati dan di kawasan Pasifik.
Baca Juga: Link Nonton Spy X Family Season 2 Episode 9 Sub Indo: Yor Hadapi Bahaya Baru!
Kenaikan suhu atmosfir itu, tak hanya menimbulkan kenaikan permukaan air laut, tapi juga mengacaukan iklim secara global sehingga banjir dan panas yang ekstrim datang silih berganti.
Prediksi UNEP, UNFCCC, dan IPCC kini mulai "dirasakan manusia" di muka bumi. Tapi anehnya, para pemimpin dunia masih terus berselisih -- mempertanyakan negara mana yang harus bertanggungjawab atas bencana global -- bukan mencari solusi dan kolaborasi untuk menyelamatkan bumi dari kiamat tersebut.
Semua pihak tahu biang kerok kenaikan suhu bumi tersebut adalah pemakaian energi fosil yang berasal dari minyak, batubara, dan gas secara berlebihan. Sisa pembakaran energi fosil inilah yang mengotori atmosfir dengan gas karbon.