SENAYANPOST - Prospek kesepakatan damai antara Amerika Serikat dan Iran masih dibayangi berbagai hambatan serius, meski kedua pihak disebut telah mencapai kesepahaman mengenai sejumlah kerangka dasar perundingan.
Profesor Pemerintahan Universitas Georgetown Qatar, Mehran Kamrava, menilai kemungkinan gagalnya proses diplomatik antara Washington dan Teheran masih cukup besar sehingga ketegangan di kawasan Teluk Persia dapat kembali meningkat sewaktu-waktu.
"Runtuhnya kesepakatan damai masih sangat mungkin terjadi," kata Kamrava pada 2 Juni 2026, dikutip SenayanPost.com dari Sputnik.
Menurutnya, salah satu isu paling sensitif yang belum terselesaikan adalah tuntutan Iran terkait pencairan aset-aset yang dibekukan serta pencabutan sanksi ekonomi yang selama bertahun-tahun diberlakukan oleh Amerika Serikat.
Baca Juga: Iran akan Gelar Prosesi Pemakaman Ayatollah Ali Khamenei di Teheran, Qom, dan Mashhad
Kamrava menjelaskan bahwa kedua isu tersebut tetap menjadi titik krusial yang dapat menentukan berhasil atau tidaknya proses negosiasi.
Trump Dinilai Ubah Terus Kesepakatan
Ia juga menyoroti langkah Presiden AS Donald Trump yang disebut masih berupaya menambahkan sejumlah amandemen baru ke dalam rancangan kesepakatan.
Padahal, menurut Kamrava, garis besar perjanjian sebelumnya telah disepakati oleh kedua belah pihak.
"Meskipun kerangka dasar kesepakatan telah disetujui, Trump terus berusaha menambahkan perubahan-perubahan baru. Dari sudut pandang Iran, hal ini bisa dianggap sebagai sikap yang tidak dapat dipercaya," ujarnya.
Kondisi tersebut dinilai berpotensi memperlambat bahkan menggagalkan upaya mencapai kesepakatan final.
Baca Juga: AS dan Iran Menuju Kesepakatan, Trump Tetap Ancam Pertahankan Blokade
Artikel Terkait
Trump Perketat Syarat Damai, Ancam Serang Iran Secara Militer
Pesawat Tempur AS Tembak Rudal ke Kapal Kargo Tujuan Iran
Laporan: Iran Hentikan Pembicaraan dengan AS, Ancam Bakal Tutup Selat Bab Al Mandab
AS dan Iran Menuju Kesepakatan, Trump Tetap Ancam Pertahankan Blokade
Iran akan Gelar Prosesi Pemakaman Ayatollah Ali Khamenei di Teheran, Qom, dan Mashhad