Amerika Serikat Kirim 6.500 Ton Senjata ke Israel, Persiapan Serangan "Pukulan Terakhir" ke Iran

photo author
Ragil Firdaus, Senayan Post
- Sabtu, 2 Mei 2026 | 21:54 WIB
Kendaraan militer buatan AS sedang dibongkar di pelabuhan Israel. (Kementerian Pertahanan Israel)
Kendaraan militer buatan AS sedang dibongkar di pelabuhan Israel. (Kementerian Pertahanan Israel)

SENAYANPOST – Amerika Serikat dilaporkan telah mengirimkan 6.500 ton munisi dan peralatan militer ke Israel hanya dalam waktu 24 jam. Pengiriman masif ini terjadi di tengah rencana militer Washington untuk melancarkan serangan besar-besaran guna memaksa Iran menyetujui kesepakatan damai yang lebih menguntungkan pihak Barat.

Berdasarkan laporan Russian Today pada Sabtu, (2/5/26), pengiriman ini mencakup ribuan munisi udara dan darat, truk militer, serta kendaraan taktis canggih yang dikenal sebagai Joint Light Tactical Vehicles (JLTV). Seluruh peralatan tempur ini tiba melalui pelabuhan Ashdod dan Haifa sebelum segera didistribusikan ke pangkalan militer Israel di seluruh negeri.

Langkah pengiriman senjata ini berbarengan dengan munculnya laporan bahwa Kepala Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM), Brad Cooper, telah memberikan pengarahan kepada Presiden Donald Trump. Sebagai informasi, CENTCOM adalah komando militer Amerika Serikat yang bertanggung jawab atas wilayah Timur Tengah dan Asia Tengah.

Dalam pengarahan tersebut, Cooper mengusulkan strategi yang disebut sebagai "pukulan terakhir" terhadap Teheran. Strategi ini melibatkan gelombang serangan singkat namun sangat kuat yang menargetkan aset militer yang tersisa, jajaran kepemimpinan, hingga infrastruktur penting Iran. Tujuannya adalah untuk menekan Iran agar segera menyepakati perjanjian damai setelah upaya diplomatik selama ini menemui jalan buntu.

Baca Juga: Tamat! Ini Jadwal Tayang dan Link Nonton Phantom Lawyer Episode 16

Meskipun gencatan senjata antara Amerika Serikat-Israel dan Iran telah diumumkan sejak 8 April lalu, situasi di lapangan tetap tegang. Ada dua masalah utama yang menjadi batu sandungan besar dalam negosiasi damai: kontrol atas Selat Hormuz (jalur minyak paling vital di dunia) dan program nuklir Iran.

Sejak konflik bersenjata pecah pada 28 Februari 2026, Israel tercatat telah menerima lebih dari 115.600 ton peralatan militer dari Amerika Serikat. Dukungan ini dikirimkan melalui 403 penerbangan kargo dan 10 pengiriman lewat jalur laut.

Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, menyatakan dukungannya terhadap upaya diplomatik Washington, namun ia memberikan peringatan keras bahwa militer mungkin harus segera bergerak kembali.

"Israel mungkin segera diharuskan untuk bertindak lagi terhadap Iran guna memastikan negara tersebut tidak kembali menjadi ancaman," ujar Katz dalam pernyataan resminya sebagaimana dikutip dari Russian Today.

Baca Juga: Prabowo Bakal Resmikan Langsung Museum Marsinah di Nganjuk: Pahlawan Kaum Buruh

Menanggapi ancaman tersebut, pihak Iran melalui Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) menyatakan kesiapan mereka untuk membalas. IRGC adalah pasukan elite militer Iran yang memiliki pengaruh politik dan ekonomi besar di negaranya. Brigadir Jenderal Seyyed Majid Mousavi memperingatkan bahwa setiap serangan baru akan dijawab dengan serangan balasan yang "menyakitkan, berkepanjangan, dan menjangkau wilayah yang luas."

Hingga berita ini diturunkan, pengiriman logistik militer masih terus berlangsung sementara komunitas internasional mengkhawatirkan pecahnya kembali perang terbuka yang lebih besar di kawasan tersebut. *

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Ragil Firdaus

Sumber: Russian Today

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X