SENAYANPOST - Gerakan Hamas belum lama ini menyetujui proposal gencatan senjata di Gaza setelah perang berlangsung 683 hari di daerah kantong tersebut.
Dalam proposal tersebut, Hamas menyetujui gencatan senjata selama 60 hari dengan Israel penjajah yang mencakup pemulangan separuh sandera yang ditawan di Jalur Gaza.
Kemudian disusul oleh pembebasan sejumlah tahanan Palestina oleh Israel.
Lebih lanjut, Hamas juga mengatakan faksi-faksi Palestina lainnya juga telah memberi tahu para mediator tentang persetujuan mereka.
Baca Juga: Pejabat Israel Sebut Gencatan Senjata di Gaza Butuh Waktu Lebih Lama, Ini Alasannya
Sejauh ini, belum ada tanggapan Israel atas usulan Hamas itu sendiri, tetapi seorang pejabat Israel mengonfirmasi bahwa usulan tersebut telah diterima.
Sebagaimana dilansir SenayanPost.com pada 19 Agustus 2025 dari Reuters, Mesir dan Qatar telah menjadi penengah antara kedua belah pihak dengan dukungan AS.
Di lain pihak, rencana Israel untuk menguasai Kota Gaza di jantung wilayah kantong Palestina telah menimbulkan kekhawatiran di luar negeri dan di dalam negeri, di mana puluhan ribu warga Israel pada hari Minggu mengadakan beberapa protes terbesar sejak perang dimulai, mendesak kesepakatan untuk mengakhiri pertempuran dan membebaskan 50 sandera yang tersisa yang ditawan di Gaza sejak serangan Hamas pada 7 Oktober 2023.
Para pejabat Israel yakin 20 orang masih hidup. Ribuan warga Palestina yang khawatir akan serangan darat Israel yang akan segera terjadi telah meninggalkan rumah mereka di wilayah timur Kota Gaza, yang kini terus-menerus dibombardir Israel, menuju titik-titik di barat dan selatan wilayah yang hancur tersebut.
Baca Juga: 639 Hari Peperangan dengan Israel, Hamas Sambut 'Positif' Proposal Gencatan Senjata di Jalur Gaza
Dalam unjuk kekuatan yang tampak nyata pada hari Senin, tank-tank Israel bergerak maju ke pinggiran kota Sabra di Kota Gaza, menurut para saksi yang menghitung keberadaan setidaknya sembilan tank dan buldoser.
Kepala Staf Angkatan Darat Israel, Letnan Jenderal Eyal Zamir, mengatakan negaranya berada di titik balik dalam perang Gaza, 'dengan fokus pada peningkatan serangan terhadap Hamas di Kota Gaza', kata juru bicara militer tersebut dalam sebuah pernyataan.
Dalam sebuah video yang dikeluarkan oleh kantornya, Perdana Menteri Benjamin Netanyahu mengatakan bahwa saat ini Hamas berada di bawah tekanan berat.
"Saya, seperti Anda, mendengar laporan di media, dan dari sana Anda bisa mendapatkan satu kesan, Hamas berada di bawah tekanan yang sangat besar," kata Netanyahu.
Artikel Terkait
Donald Trump Sebut Israel Setuju Gencatan Senjata di Gaza, meski Hanya Sebentar
Presiden AS Donald Trump Desak Hamas Terima Proposal Gencatan Senjata 60 Hari di Jalur Gaza
Hamas Pelajari Proposal Gencatan Senjata di Jalur Gaza yang Diusulkan Presiden AS Donald Trump
639 Hari Peperangan dengan Israel, Hamas Sambut 'Positif' Proposal Gencatan Senjata di Jalur Gaza
Pejabat Israel Sebut Gencatan Senjata di Gaza Butuh Waktu Lebih Lama, Ini Alasannya