Presiden AS Donald Trump Ribut dengan Volodymyr Zelensky, Partai Republik Terancam Pecah Kongsi

photo author
Amila Y F, Senayan Post
- Sabtu, 1 Maret 2025 | 18:15 WIB
Presiden AS Donald Trump ribut di Gedung Putih dengan Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky, Partai Republik terancam pecah kongsi. (Tangkapan layar X.com/@RapidResponse47)
Presiden AS Donald Trump ribut di Gedung Putih dengan Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky, Partai Republik terancam pecah kongsi. (Tangkapan layar X.com/@RapidResponse47)

SENAYANPOST - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump terlibat ribut dengan Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky di Gedung Putih belum lama ini.

Keributan tersebut tertangkap kamera dan wartawan yang hadir di Gedung Putih yang juga dihadiri Wakil Presiden AS JD Vance.

Ketegangan antara Trump dan Zelensky ini tentu saja memecah belah pendukung Partai Republik dan meredupkan prospek bahwa Kongres akan menyetujui bantuan lebih lanjut untuk Kyiv dalam perangnya dengan Rusia.

Beberapa anggota Partai Republik yang telah lama mendukung Ukraina mengecam Zelensky setelah pertikaian hari Jumat, di mana Trump dan Wakil Presiden JD Vance mencaci-maki pemimpin Ukraina itu di hadapan media dunia, menuduhnya tidak sopan.

Baca Juga: Ahmad Al Sharaa Masih Bungkam soal Ancaman Netanyahu Terkait Demiliterisasi Suriah Selatan

Senator Lindsey Graham meminta Zelensky untuk mengubah pendiriannya atau mengundurkan diri, hanya beberapa jam setelah menghadiri pertemuan persahabatan antara Zelenskiy dan belasan senator.

"Apa yang saya lihat di Ruang Oval tidak sopan, dan saya tidak tahu apakah kita bisa berbisnis lagi dengan Zelenskiy," kata Linsey Graham pada 29 Februari 2025, dikutip SenayanPost.com dari Reuters.

Graham merupakan sekutu dekat Trump, kepada wartawan saat meninggalkan Gedung Putih setelah bentrokan itu, yang membuat hubungan dengan sekutu terpenting Kyiv di masa perang itu memburuk.

"Dia harus mengundurkan diri dan mengirim seseorang yang bisa kita ajak berbisnis, atau dia harus berubah," kata senator Carolina Selatan itu.

Baca Juga: Warga Druze Suriah Turun ke Jalan Suwayda, Protes Pendudukan Israel dan Turki

Senator Bill Hagerty dari Tennessee, yang menjadi duta besar untuk Jepang selama masa jabatan pertama Trump, memposting di X: "Amerika Serikat tidak akan lagi dianggap remeh".

Namun, meskipun sebagian besar anggota Partai Republik mendukung Trump dan Vance, beberapa bergabung dengan Demokrat dalam membela Ukraina.

Perwakilan New York Mike Lawler, dalam sebuah posting di X, menyebut pertemuan di Ruang Oval sebagai kesempatan yang hilang bagi Amerika Serikat dan Ukraina.

Menurutnya, ini adalah sebuah perjanjian yang tidak diragukan lagi akan menghasilkan kerja sama ekonomi dan keamanan yang lebih kuat.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Amila Y F

Sumber: Reuters

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X