Benjamin Netanyahu Lagi-lagi Sabotase Gencatan Senjata di Gaza

photo author
Amila Y F, Senayan Post
- Kamis, 2 Januari 2025 | 22:05 WIB
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu kembali sabotase gencatan senjata di Gaza dengan menambah syarat baru. (Twitter.com/@IsraeliPM)
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu kembali sabotase gencatan senjata di Gaza dengan menambah syarat baru. (Twitter.com/@IsraeliPM)

SENAYANPOST - Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu lagi-lagi sabotase gencatan senjata di Gaza berdasarkan beberapa laporan.

Dalam laporan tersebut, Netanyahu kembali ke 'pendekatan mengelak' dalam perundingan gencatan senjata di Gaza yang menghambat negosiasi.

Seorang sumber dari Mesir kepada kantor berita Al Araby Al Jadid mengatakan bahwa perubahan posisi Israel telah mengejutkan para mediator dan memperlambat kemajuan terkini yang dicapai dalam perundingan tidak langsung dengan Hamas.

Netanyahu mengajukan daftar tuntutan baru, yang mencakup modifikasi terkait tawanan yang ingin dibebaskan Israel, serta persyaratan tambahan terkait jadwal penarikan tentara selama fase perjanjian yang diusulkan, kata sumber tersebut.

Baca Juga: Laporan: Perundingan Gencatan Senjata di Gaza Terhenti, Hamas dan Israel Penjajah Temui Jalan Buntu

Ia menambahkan bahwa perundingan "berjalan sangat baik" hingga perubahan terbaru Israel.

"Para mediator di Mesir dan Qatar akan mencapai draf perjanjian yang hampir final untuk disampaikan kepada semua pihak terkait, terutama setelah Hamas mengajukan formula yang dapat diterima terkait jadwal perjanjian," kata laporan tersebut pada 2 Januari 2024, dikutip SenayanPost.com dari Middle East Eye.

Sementara itu, seorang 'pemimpin perlawanan Palestina' yang tidak disebutkan namanya mengatakan kepada media yang berkantor pusat di Doha bahwa modifikasi terbaru Netanyahu merupakan 'pembalikan' dari apa yang telah dinegosiasikan pada putaran terakhir.

Menurutnya, perubahan tersebut secara efektif merusak komitmen terhadap kesepakatan komprehensif yang dilaksanakan secara bertahap dan saling terkait.

Baca Juga: WHO Sebut Israel Jadikan Rumah Sakit di Jalur Gaza Medan Perang, Minta Penjajah Bebaskan Dr Hussam Abu Safiya

Ia menambahkan bahwa tim negosiasi Hamas dan mediator Mesir dan Qatar menganggap modifikasi mendadak tersebut sebagai batas yang sangat tinggi, yang hanya dapat dipahami sebagai keinginannya untuk mendapatkan lebih banyak waktu hingga Presiden terpilih AS Donald Trump memangku jabatan.

Dalam laporan terpisah pada hari Kamis, Al Araby Al-Jadid mengatakan delegasi Hamas melakukan perjalanan ke Mesir pada hari Rabu untuk memulai pembicaraan meskipun ada perubahan sikap Israel.

Pembicaraan lebih lanjut akan diadakan di Doha, tambahnya.

"Ada peluang besar bahwa negosiasi akan berhasil kali ini," kata Mousa Abu Marzook, pemimpin senior Hamas.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Amila Y F

Sumber: Middle East Eye

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X