SENAYANPOST - Ahmad Al Sharaa pemimpin de facto Suriah telah capai kesepakatan untuk melebur faksi-faksi oposisi bersenjata yang berhasil gulingkan rezim Bashar Al Assad.
Lebih lanjut, pria yang sebelumnya dikenal sebagai Abu Mohammad Al Julani ini mengatakan bahwa faksi-faksi oposisi ini akan melebur menjadi satu di bawah Kementerian Pertahanan.
Pertemuan antara Al Sharaa dan para pemimpin kelompok berakhir dengan kesepakatan tentang pembubaran semua kelompok dan integrasi mereka di bawah pengawasan Kementerian Pertahanan pada Selasa lalu.
Namun, kelompok Pasukan Demokratik Suriah (SDF) yang dipimpin Kurdi dan didukung Amerika Serikat di Suriah timur laut tidak termasuk dalam kesepakatan yang baru saja diumumkan.
Perdana Menteri Mohammed Al Bashir telah mengatakan minggu lalu bahwa kementerian akan direstrukturisasi dengan menggunakan mantan faksi pemberontak dan perwira yang membelot dari tentara Bashar Al Assad.
"Sejak jatuhnya rezim Assad, ini mungkin perkembangan terpenting yang terjadi di Suriah," kata Resul Serdar pada 24 Desember 2024, dikutip SenayanPost.com dari Al Jazeera.
Ia menjelaskan bahwa segera setelah jatuhnya rezim Al Assad, para pejuang oposisi dari seluruh negeri mengalir ke Damaskus, dengan beberapa dari mereka mengklaim wilayah yang berbeda di ibu kota.
"Ketakutan utama adalah bagaimana kelompok-kelompok yang telah berperang melawan rezim selama 13 tahun perang saudara – kelompok-kelompok yang bersenjata lengkap – bagaimana mereka akan bergabung dan bersatu," kata Serdar.
Baca Juga: Iran Kecam Pengakuan Terang-terangan Israel soal Pembunuhan Ismail Haniyeh
"Setelah pembicaraan dan perundingan, beberapa sesi dan pertemuan … sekarang Ahmed Al Sharaa, pemimpin de facto Suriah yang juga merupakan pemimpin HTS – kekuatan militer dan politik paling dominan di Suriah – mengatakan bahwa semua kelompok bersenjata telah memutuskan untuk bergabung di bawah Kementerian Pertahanan; itu adalah perkembangan yang cukup luar biasa," tambahnya.
Pencabutan Sanksi
Setelah serangan besar-besaran lebih dari dua minggu lalu yang melambungkan Hayat Tahrir al-Sham (HTS) ke tampuk kekuasaan di Damaskus, penguasa baru negara itu menunjuk Murhaf Abu Qasra, tokoh terkemuka dalam pemberontakan yang menggulingkan Al Assad, sebagai menteri pertahanan dalam pemerintahan sementara.
Al Sharaa sebelumnya telah berjanji bahwa semua senjata di negara itu, termasuk yang dimiliki oleh pasukan pimpinan Kurdi, akan berada di bawah kendali negara.
Artikel Terkait
Laporan Intelijen: Tahu Banyak soal Rencana HTS Gulingkan Bashar Al Assad di Suriah, AS Latih Tentara Bayaran
Roadmap Al Qaeda Berkuasa di Suriah
Ratusan Warga Suriah di Damaskus Protes Usai Pohon Natal Dibakar di Suqaylabiyah
Presiden Turki Erdogan soal Agresi Israel ke Dataran Tinggi Golan, Sebut Melemahkan Revolusi Suriah
Menhan Israel soal Suriah: Kami Sukses Gulingkan Bashar Al Assad