Presiden AS Joe Biden Ultimatum Netanyahu soal Agresi Israel Penjajah ke Rafah

photo author
Amila Y F, Senayan Post
- Selasa, 19 Maret 2024 | 20:17 WIB
Presiden AS Joe Biden ultimatum PM Israel Benjamin Netanyahu untuk tidak melakukan agresi ke Rafah belum lama ini. (Instagram.com/@potus)
Presiden AS Joe Biden ultimatum PM Israel Benjamin Netanyahu untuk tidak melakukan agresi ke Rafah belum lama ini. (Instagram.com/@potus)

SENAYANPOST - Presiden Amerika Serikat (AS) Joe Biden ultimatum Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu untuk tidak melewati batas dengan melakukan agresi ke perbatasan Rafah di mana sekitar satu juta lebih warga Gaza mengungsi.

Lebih lanjut, Joe Biden mengungkapkan kepada Netanyahu bahwa agresi Israel penjajah ke Rafah akan menjadi 'kesalahan besar'.

Diketahui, Joe Biden dan Netanyahu baru berbicara kembali setelah kedua negara mengalami ketegangan soal perang di Gaza, Palestina.

Dalam beberapa bulan terakhir, Biden dan Netanyahu saling melontarkan sindiran terkait perang di Gaza di tengah tekanan dunia internasional.

Baca Juga: Pesan Geopolitik Joe Biden kepada Prabowo Subianto

Penasihat keamanan nasional Gedung Putih Jake Sullivan mengatakan kepada wartawan pada hari Senin bahwa Biden dan Netanyahu melakukan pembicaraan 'bisnis'.

Jake Sullivan mengatakan bahwa Netanyahu setuju untuk mengirim tim teknis yang terdiri dari pejabat senior militer, intelijen dan kemanusiaan ke Washington dalam beberapa hari mendatang untuk membahas tahap selanjutnya dari konflik tersebut.

Agenda Biden yang pertama dan terpenting adalah mencegah invasi besar-besaran Israel ke Rafah, kota perbatasan selatan Gaza di mana 1,5 juta warga Palestina berlindung dalam kondisi yang tidak layak.

"Presiden menjelaskan mengapa dia sangat prihatin dengan Israel yang melakukan operasi militer besar-besaran di Rafah," kata Jake Sullivan pada 18 Maret 2024, dikutip SenayanPost.com dari Middle East Eye.

Baca Juga: Prabowo Subianto Dipastikan Menang Pilpres 2024, Presiden AS Joe Biden Akhirnya Kirim Ucapan Selamat

Israel mengancam akan menyerang Rafah pada awal Februari.
Pemerintahan Biden menolak rencana tersebut tetapi tidak mengeluarkan garis merah penuh atas serangan tersebut, dengan mengatakan bahwa Israel pertama-tama perlu memastikan rencana untuk mengevakuasi warga sipil Palestina.

"Israel belum memberi kami atau dunia rencana tentang bagaimana atau ke mana mereka akan memindahkan warga sipil dengan aman dan memastikan akses dasar terhadap hal-hal seperti sanitasi," lanjutnya.

Sullivan mengatakan Biden memperingatkan Netanyahu agar tidak melakukan invasi besar-besaran ke Rafah.

"Operasi darat besar-besaran di sana merupakan sebuah kesalahan, hal ini akan menyebabkan lebih banyak kematian warga sipil yang tidak bersalah, memperburuk krisis kemanusiaan yang sudah mengerikan, memperdalam anarki di Gaza, dan semakin mengisolasi Israel secara internasional," katanya.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Amila Y F

Sumber: Middle East Eye

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X