SENAYANPOST - Perdana Menteri Palestina, Mohammad Shtayyeh menegaskan bahwa pihaknya ingin Israel menarik penuh pasukannya dari Gaza setelah 125 hari perang berkecamuk di daerah tersebut.
Lebih lanjut, Shtayyeh menyambut baik segala upaya yang bertujuan untuk menghentikan agresi Israel terhadap rakyat Palestina.
Sebagaimana diketahui, Hamas dan faksi Perlawanan Palestina sudah menyodorkan proposal gencatan senjata lewat mediator Mesir dan Qatar kepada Israel.
Namun, baru-baru ini Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu menolak proposal tersebut dan berencana akan melanjutkan agresinya di Gaza untuk melenyapkan Hamas.
Dalam sebuah wawancara dengan televisi swasta Lebanon, Shtayyeh menyinggung perpecahan dalam pemerintahan Israel sehubungan dengan negosiasi gencatan senjata ini.
"Sejak hari pertama, kami tahu bahwa agenda Perdana Menteri (Benjamin Netanyahu) dan pemerintah Israel adalah melanjutkan agresi terhadap rakyat Palestina," kata Mohammad Shtayyeh pada 8 Februari 2024, dikutip SenayanPost.com dari Al Mayadeen English.
Menurutnya, satu-satunya hal yang dicapai Israel di Gaza adalah menewaskan 27 ribu lebih warga Palestina, melukai 67.000 lainnya, dan menghancurkan sekitar 281.000 unit rumah.
Shtayyeh menyambut baik segala upaya untuk menghentikan agresi, yang mengarah pada pembebasan tahanan dan menghentikan perpindahan sistematis warga Palestina yang diinginkan oleh Israel.
Terutama setelah mendorong 1,7 juta warga Palestina menuju Rafah, sebuah wilayah geografis kecil yang tidak melebihi seperempat dari Gaza.
Baca Juga: Indonesia Membangun Perdamaian untuk Solusi Isu Palestina
Keterlibatan AS dalam Perundingan Gencatan Senjata
Mengenai kunjungan Menteri Luar Negeri AS Antony Blinken ke wilayah pendudukan Palestina pada hari Rabu, Shtayyeh menekankan bahwa Amerika berkepentingan untuk mencapai kesepakatan, dan menambahkan bahwa kemampuannya untuk menekan Israel menjadi sangat terbatas.
Dia mengatakan bahwa Netanyahu dapat memeras pemerintah AS, karena pemilihan presiden AS yang akan datang, dan menekankan bahwa tekanan AS terhadap Israel untuk menghentikan agresinya tidaklah serius.
Artikel Terkait
Empat Pemukim Israel di Tepi Barat Palestina Kena Sanksi AS, Ini Tanggapan Netanyahu
120 Hari Perang, Hamas dan Jihad Islam Palestina Bahas Operasi Badai Al Aqsa
110 Jam Berlalu, Nasib Anak 5 Tahun dan 2 Paramedis Bulan Sabit Merah Palestina Masih Belum Diketahui
Indonesia Membangun Perdamaian untuk Solusi Isu Palestina
Menlu AS Antony Blinken Kembali ke Timur Tengah, Warga Palestina Minta Gencatan Senjata Sebelum Israel Gempur Rafah