"Di situ ada target triple dan double sampai 2030 untuk EBT. Apakah Indonesia mampu melakukannya? Yang ada sekarang saja, enggak usah triple, double pun untuk EBT belum berjalan," ujar Harris.
Baca Juga: Link Live Streaming Debat Cawapres Pemilu 2024, Jokowi Beri Wejangan ke Gibran?
Indonesia saat ini masih berkomitmen dengan Paris Accord, melalui revisi dokumen kontribusi nasional atau Enhanced Nationally Determined Contribution (ENDC) 2022.
Yaitu menurunkan emisi karbon penyebab perubahan iklim sampai 2030. Dokumen itu, antara lain, mengatur, 37 persen penurunan emisi gas rumah kaca diperoleh dari kegiatan efisiensi energi dan lebih dari 50 persen dari EBT.
Kendati demikian, Indonesia masih kesulitan memenuhi target di atas. Sebagai contoh, potensi kapasitas sumber daya energi terbarukan Indonesia lebih dari 3.600 gigawatt.
Sedangkan realisasi kapasitas terpasang hingga semester 1-2023 baru 12.7 gigawatt. Masih jauh dari harapan. Hambatannya pada modal dan investasi.
Baca Juga: Firli Bahuri Undur Diri dari KPK, Dewas Tegaskan Sidang Kode Etik Tetap Lanjut
Betul, Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) PT Perusahaan Listrik Negar (Persero) 2021-2030 adalah 51 persen pembangkit dengan sumber energi EBT.
Namun, hingga akhir 2022 realisasi bauran EBT baru tercapai 12,3 persen, padahal targetnya 23 persen pada 2025.
Sementara penurunan emisi dari sektor lain, terutama energi, lebih sulit dicapai. Kesalahan tata kelola sumber daya alam membuat RI bergantung pada energi fosil sebagai bahan bakar pembangkit listrik tenaga uap dan kendaraan.
Laporan yang diterbitkan Ember, lembaga riset sektor energi, menyebut emisi karbon dari batubara per kapita di negara-negara anggota G20 naik 9 persen.
Baca Juga: Petinggi Sayap Militer Hamas Minta Syarat Ini di Tengah Negosiasi Palestina dan Israel
Bahkan, emisi tenaga batubara per kapita di Indonesia melonjak 56 persen dari tahun 2015 sampai 2022.
Dari gambaran tersebut, tak banyak kontribusi Indonesia dalam mencegah kenaikan suhu bumi. Kondisi ini terasa sekali saat musim kemarau lalu.
Suhu udara di sejumlah wilayah seperti Kalimantan Barat sempat menyentuh 38 sampai 41 derajat Selsius. Di beberapa daerah perkotaan seperti Jakarta, Surabaya, dan Medan suhu udara pun naik -- melibihi tahun-tahun sebelumnya.