Harris Turino Angkat Bicara soal Rencana Redenominasi Rupiah, Pastikan Kawal Momentum Pelaksanaan Kebijakan

photo author
Amila Y F, Senayan Post
- Senin, 10 November 2025 | 20:09 WIB
Anggota DPR RI Komisi XI Harris Turino menanggapi rencana Menkeu Purbaya Yudhi Sadewa untuk redenominasi Rupiah. (Instagram.com/@harristurino)
Anggota DPR RI Komisi XI Harris Turino menanggapi rencana Menkeu Purbaya Yudhi Sadewa untuk redenominasi Rupiah. (Instagram.com/@harristurino)

SENAYANPOST - Wacana redenominasi rupiah 1.000:1 yang kembali disampaikan Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa menempatkan Indonesia pada persimpangan kebijakan yang tidak sederhana.

Di satu sisi, pemerintah menargetkan kerangka regulasi redenominasi rampung sekitar 2026–2027 dan di sisi lain, implementasinya menuntut kesiapan fiskal, moneter, teknis, dan psikologis masyarakat yang tidak bisa setengah hati.

Sebagai Anggota Komisi XI DPR RI yang membidangi keuangan negara, Harris Turino memandang bahwa keberhasilan redenominasi ditentukan bukan oleh banyaknya nol yang dihapus, melainkan oleh seberapa kuat fondasi makro dan seberapa disiplin proses transisinya.

Secara makro, Indonesia memang sedang berada pada lingkungan yang relatif kondusif.

Inflasi IHK per Oktober 2025 berada di 2,86 persen (yoy), dalam rentang yang aman untuk kebijakan yang sangat sensitif secara psikologis.

Baca Juga: Komentar Menkeu Purbaya soal Ekonomi RI Tumbuh 5,04 Persen, Sebut Ada Hubungannya dengan Arah Kebijakan Fiskal

Bank Indonesia juga menegaskan bahwa stabilitas harga terjaga. Proyeksi IMF menempatkan pertumbuhan ekonomi Indonesia 2025–2026 pada kisaran moderat, sekitar 4,9 persen, sementara inflasi diperkirakan tetap rendah.

Rasio utang pemerintah sekitar 40 persen PDB, masih jauh dari batas risiko internasional, walaupun DSRnya juga sudah mencapai kisaran 40 persen.

Kondisi ini menyediakan ruang bagi pemerintah untuk mempertimbangkan redenominasi tanpa tekanan makro yang ekstrem.

Menilik Pengalaman Negara Lain: Stabilitas Jangka Pendek Saja Belum Cukup

Turki berhasil memangkas enam nol pada 2005 karena proses stabilisasi inflasinya kuat, kredibilitas otoritas moneter tinggi, dan transisi dilakukan bertahap melalui mata uang sementara (YTL) sebelum kembali ke TL.

Romania dan Ghana menunjukkan bahwa edukasi publik yang intensif dan masa harga ganda yang cukup panjang mencegah kekacauan persepsi harga.

Baca Juga: Menkeu Purbaya Disebut Jadi Sosok Terpopuler dalam Pengangkatan Menteri di era Prabowo, Bakal Terjun ke Politik?

Sebaliknya, Zimbabwe membuktikan bahwa redenominasi tanpa disiplin fiskal, tanpa stabilisasi inflasi, dan tanpa kepercayaan publik hanya menimbulkan krisis berulang.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Amila Y F

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X