Bupati Purwakarta Buka Suara soal Lagu Lalaki Langit yang Dianggap Rendahkan Perempuan

photo author
Hanggi Martyas Laksono, Senayan Post
- Kamis, 2 Juli 2026 | 11:57 WIB
Buntut Lirik Lagu Vulgar, JBH Beri Waktu 3x24 Jam bagi Bupati Purwakarta Om Zein. (Instagram/gnpmusic)
Buntut Lirik Lagu Vulgar, JBH Beri Waktu 3x24 Jam bagi Bupati Purwakarta Om Zein. (Instagram/gnpmusic)

SENAYANPOST - Lalaki Langit, Lalanang Bejat merupakan lagu ciptaan Bupati Purwakarta, Saepul Bahri Binzein lagi jadi sorotan lantaran menuai kontroversi.

Pasalnya lirik yang ditulis dalam Bahasa Sunda tersebut, dinilai telah merendahkan dan mengandung stereotip tertentu terhadap perempuan hingga menjadi sorotan tajam publik.

Beberapa bagian lirik yang dinilai memberikan objektifikasi seksual kepada perempuan seperti, _‘Cacak mun jadi awewe, SMP kelas tilu tos karuron tujuh kali_ (Andai saja jadi perempuan, SMP kelas tiga sudah keguguran tujuh kali)’.

Kemudian ada lirik _‘Teu kudu meuli kutang, nu busana leuwih gede batan susu_ (Tidak usah membeli bra yang busanya lebih besar daripada payudara)’, hingga _‘Teu kudu ngaprak-ngaprak apotek alatan telat bulan_ (Tidak usah keliling mencari apotek karena telat bulan/hamil)’.

Baca Juga: Memperingari HUT RI ke 80 Ala Anggota Klub Motor Kustom di Purwakarta

Usai polemik lirik lagu tersebut viral, Bupati Purwakarta yang kerap dipanggil Om Zein itu akhirnya buka suara mengenai makna sebenarnya yang ingin ia sampaikan.

Terungkap bahwa lirik lagu tersebut, sudah ia tulis sejak lama dan membantah sengaja diciptakan untuk menyinggung perempuan.

“Itu puisi dan lagu diciptakan tahun 2020, bercerita tentang diri saya sendiri. Berawal dari renungan atas perilaku saya sendiri yang menurut saya saat itu saya nakal,” ucap Om Zein dalam keterangannya, dikutip dari laman resmi PPID Purwakarta pada Kamis, 2 Juli 2026.

Lebih lanjut, ia menyebut bahwa lirik tersebut adalah bentuk kejujuran atas ketidaksempurnaan dirinya di masa lalu.

“Saya bersyukur Tuhan menciptakan saya jadi lelaki. Mungkin jika saya diciptakan jadi perempuan, terjadi apa yang saya pikirkan karena saya belum bisa menjaga diri,” imbuhnya.

Meski mengaku lagu tersebut adalah refleksi personal untuknya, tapi ia menyadari bahwa interpretasi publik bisa berbeda.

Atas ketidaknyamanan yang muncul di tengah masyarakat, ia juga mengungkapkan permintaan maafnya.

“Saya mohon maaf jika ada pihak yang merasa tidak nyaman dengan lirik lagu itu. Namun tidak bermaksud menyinggung pihak tertentu. Itu murni cerita tentang diri saya sendiri,” tegasnya.

Sebelumnya, anggota DPR RI Komisi VII Atalia Praratya membagikan rasa geramnya atas lagu ‘Lalaki Langit, Lalanang Bejat’ yang dinilai merendahkan perempuan.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Hanggi Martyas Laksono

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X