"Nah, dua orang ini kenapa tersandera akhirnya. Akhirnya Golkar diserahkan kepada Jokowi. Tadinya Jokowi yang mau jadi ketua Golkar, tapi karena ramai akhirnya Bahlil," katanya.
Sri juga menilai proses penegakan hukum dalam perkara tersebut tidak berjalan sebagaimana mestinya.
"Ini satu penegakan hukum yang benar-benar abal-abal," ujarnya.
Lebih lanjut, ia berpendapat bahwa perubahan loyalitas Febrie Adriansyah kepada pemerintahan saat ini menjadi alasan munculnya kekhawatiran dari pihak-pihak tertentu.
"Nah ketika sekarang Febrie loyalitasnya bergeser ke Presiden Prabowo, khawatirlah mereka. Nih Febrie kalau dapat perintah Prabowo habis kita," kata Sri.
Hingga berita ini ditulis, belum ada tanggapan dari Erick Thohir, Febrie Adriansyah, Joko Widodo, Airlangga Hartarto, maupun pihak-pihak lain yang disebut dalam pernyataan Sri Rajasa Chandra terkait klaim tersebut.***