Mush’ab Muqoddas Eka Purnomo, Lc
Isra merupakan kata kerja yang berarti berjalan di malam hari. Maka dalam ayat pertama surah Al Isra dapat diartikan bahwa Nabi Muhammad SAW diperjalankan atas kekuasaan Allah SWT di malam hari dari Masjidil Haram menuju Masjid Al Aqsha mengendarai Buraq yaitu kendaraan khusus para Nabi AS yang tingginya antara kuda dan keledai serta bercahaya seperti kilat.
Sedangkan Uruj merupakan kata kerja yang berarti berjalan ke arah atas (secara vertikal). Maknanya adalah perjalanan dari Masjid Al Aqsha melewati langit-langit bertemu para Nabi AS dan berakhir ke Sidratul Muntaha bertemu Allah SWT.
Sedangkan Mi’raj adalah alat untuk Uruj, sesuai penjelasan dalam hadits Nabi Muhammad SAW yang diriwayatkan oleh Abu Sa’id Al Khudri. Hadits itu kemudian dikutib oleh Al Qurthubi, bahwa Mi’raj adalah kendaraan yang dinaiki oleh ruh manusia setelah ditarik oleh Malaikat Izrail AS.
Ruh itu akan naik ke langit kembali ke tempatnya. Dan jasad manusia yang ditinggalkannya tidak dapat bergerak dan dikuburkan di dalam tanah, bahan penciptaan Nabi Adam AS.
Ulama Al Azhar Syaikh Hisyam Al Kamil menjelaskan bahwa penyebutan Isra Mi’raj, bukan Isra Uruj, adalah suatu kesalahan yang dianggap biasa karena tidak mengurangi esensi dari tujuan dan faedahnya. Kesalahan ini biasanya sering ditolerir.
Prof. Dr. Wahbah Zuhaili menjelaskan bahwa maksud dari Masjidil Haram dalam ayat pertama surah Al Isra adalah Tanah Haram. Maksudnya, semua Tanah Haram (kota Makkah) disebut sebagai Masjidil Haram, bukan hanya sekitar Ka’bah saja.
Nabi Muhammad SAW diberangkatkan dari kediaman sepupunya Ummu Hani binti Abu Thalib setelah dibelah dadanya oleh Malaikat Jibril RA dengan tujuan Masjidil Aqsha untuk mengimami para Nabi AS dengan mengendarai Buraq.
Selanjutnya, Nabi Muhammad SAW melakukan Uruj menemui para Nabi AS di tujuh lapisan langit dengan tujuan akhir Sidratul Muntaha. Para Nabi AS yang ditemui adalah Nabi Adam AS (Langit Pertama), Nabi Yahya AS dan Nabi Isa AS (Langit Kedua), Nabi Yusuf AS (Langit Ketiga), Nabi Idris AS (Langit Keempat), Nabi Harun AS (Langit Kelima), Nabi Musa AS (Langit Keenam) dan Nabi Ibrahim AS (Langit Ketujuh).
Perjalanan kemudian dilanjutkan sampai ke Sidratul Muntaha bertemu dengan Allah SWT dan dalam pertemuan tersebut Nabi Muhammad SAW diberikan perintah shalat lima waktu setelah sebelumnya diperintahkan lima puluh waktu. Al Izz bin Abdus Salam menyebutkan pahala mengerjakan sholat lima waktu adalah pahala mengerjakan lima puluh sholat.
Isra Uruj terjadi setelah Nabi Muhammad SAW mendapatkan berbagai cobaan dari boikot Quraisy Makkah atas Bani Hasyim yang disusul dengan wafatnya Siti Khadijah RA dan pamannya Abu Thalib. Selanjutnya, Nabi Muhammad SAW bersama anak angkat beliau Zaid bin Al Haritsah RA bertolak ke Thaif akan tetapi ditolak oleh Bani Tsaqif.
Berbagai ujian tersebut dilalui oleh Nabi Muhammad SAW kemudian Allah SWT memberikan suatu hadiah untuk memperkuat Nabi Muhammad SAW dan iman Umat Islam, dalam bentuk Isra Uruj.