Ternyata keputusan tersebut bukanlah gertak sambal dari Bung Karno melainkan benar-benar keputusan yang berlaku.
Keputusan tersebut sudah barang tentu membuat kalangan lingkaran 1 Presiden geger dan bingung, karena ternyata Bung Karno menyerahkan seluruh kewenangannya kepada Waperdam Leimena, fungsi Pangti ABRI diserahkan kepada Jenderal Ahmad Yani, lagi-lagi Mega menghubungi penulis membeberkan situasinya yang serius dan genting.
Penulis kaget setengah mati karena tidak terpikir akan berdampak sejauh itu.
Secara kilat penulis ngebut ke Jakarta dan langsung menemui Bung Karno di kamarnya serta memohon Bung Karno tidak mengundurkan diri, dibarengi permohonan maaf penulis yang sebesar-besarnya.
Saat itu penulis sudah siap menerima hukuman seberat apapun namun aneh bin ajaib ternyata Bung Karno hanya berkata:
Baca Juga: Tak Diundang Jokowi, Partai Demokrat 'Minta Bocoran' ke Cak Imin soal Pertemuan di Istana
“Tok, engkau seorang Islam ambil Kitab Al Quran Bapak Di lemari dan taruh tangan kananmu di atasnya dan bersumpahlah tidak akan mengulangi lagi kejadian-kejadian yang ngawur itu”.
Semua arahan Bung Karno penulis laksanakan sehingga membuat masalah beres sudah. Presiden Pemimpin Besar Revolusi penyambung lidah rakyat kembali beraksi lagi berkonfrontasi mengganyang federasi Malaysia sebagaimana layaknya.
Sejak kejadian tersebut hubungan penulis dengan Bung Karno justru bertambah akrab, barangkali ini adalah segi humanisme dan kemanusiaan Bung Karno yang sulit ditiru dan dipahami oleh kita-kita yang awam.
Terima kasih Tuhan hampir saja Revolusi Indonesia buyar hanya gara-gara tindakan brutal kekanak-kanakan dari penulis yang menurutnya adalah merupakan “Infantile Disorder”.***