nasional

Opini: Dari Film Bloody Nickel The Series (Membuka Kedok Hilirisasi Mantra Jokowi)

Rabu, 17 Juli 2024 | 19:38 WIB
Film Bloody Nickel The Series

Belakangan ini, air Sungal Sagea di Kecamatan Weda Utara selalu keruh dan berlumpur, termasuk di luar musim hujan. Jangankan untuk minum, buat mencuci baju pun airnya tak layak.

Baca Juga: Opini: Budhy yang Budhis

Akibatnya, ratusan keluarga di sekitar aliran sungai kini harus beralih membeli air isi ulang.

Obyek wisata gua batu Boki Maruru, yang termasyhur karena kejernihan air dan keindahan panoramanya pun terpaksa tutup.

Padahal, sebelum airnya butek, kawasan wisata yang dikelola desa itu biasanya dikunjung 2000 orang per bulan.

Munculnya air keruh ini, karena bukit-bukit berhutan di hulu Sungai Sagea terus dikupas dengan traktor dan buldoser untuk mendapatkan bijih nikel.

Baca Juga: Gegara 5 Warga NU Temui Presiden Israel, 'Netanyahu United' Viral di Media Sosial

Dalam catatan Koalisi Save Sagea, ada lima perusahaan nikel yang menambang disekitar sungal.

Dinas Lingkungan Hidup Provinsi Maluku Utara, telah merekomendasikan penghentian penambangan tersebut. Tapi kelima perusahaan itu bergeming. Tetap jalan.

Sungai Sagea, hanya satu contoh dampak buruk tata kelola tambang nikel.

Penambangan bijih nikel yang merusak lingkungan makin parah, sejak perizinan beralih dari Pusat ke Pemda, tahun 2010.

Baca Juga: Hamas Bantah Mundur dari Negosiasi Gencatan Senjata di Gaza, Sebut Netanyahu Halangi Kesepakatan

Hilangnya hutan, rusaknya daerah aliran sungai, pencemaran sungai, dan munculnya bencana alam hidrometeorologi di banyak tempat merupakan dampak lingkungan akibat kecerobohan operasi industri nikel.

Yang menyakitkan, jika rakyat setempat menderita dan kehilangan masa depan, sebaliknya industri nikel -- mendapat subsidi dari negara. Listrik untuk semelter, misalnya, berasal dari energi batubara.

Jangan kaget, harga batubaranya sangat murah karena disubsidi pemerintah Indonesia.

Halaman:

Tags

Terkini